Example 160x600
Example 160x600
Local News

Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar, Mengenang Peristiwa Mandor 1944

×

Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar, Mengenang Peristiwa Mandor 1944

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KhatulistiwaHits, Pontianak.– Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar (Kalimantan Barat) kembali digelar tahun ini. Hari Berkabung Daerah Kalbar diperingatil untuk mengenang kelam yang dikenal dengan Peristiwa Mandor.

Peristiwa Mandor pada 28 Juni 1944 yang terjadi di Kalimantan Barat pada masa pendudukan Jepang merupakan bagian dari sejarah kelam bangsa ini, dimana ribuan rakyat tidak berdosa dibantai secara keji oleh tentara Dai Nippon. Pembantaian ini menyisir seluruh lapisan masyarakat mulai dari keluarga kesultanan, kaum cerdik pandai, hingga rakyat biasa

Tanggal 28 Juni merupakan hari berkabung daerah Provinsi Kalimantan Barat dan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007, yang dibentuk melalui rapat paripurna DPRD Kalimantan Barat. Hari berkabung ini adalah bukti kepudulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor.

Pecahnya Peristiwa Mandor 28 Juni 1944 Jadi dasar Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar

Dikutip khatulistiwahits.com dari tulisan Muhammad Rikaz Prabowo yang terbit di jurnal ‘Bihari’, Pembunuhan massal yang dilakukan tentara Jepang berawal dari sebuah desas desus yang terdengar oleh pihak Jepang. Semua karena sebuah kecurigaan dimana Tokkeitai (Polisi Rahasia Kaigun) mencium adanya suatu persekongkolan untuk melawan Jepang. Tentunya upaya perlawanan ini berangkat dari kondisi kehidupan yang kian susah dan perlakuan kejam Jepang terhadap rakyat.

Berdasarkan informasi yang beredar pada April 1942, Sultan Pontianak Syarif Muhammad Al-Kadri mengundang seluruh kepala swapraja, dalam hal ini Sultan dan Panembahan di seluruh Kalimantan Barat ke Keraton Kadriyah. Inti dari undangan ini sebenarnya membicarakan kondisi kehidupan terkini. Secara bulat para pemimpin kesultanan ini akhirnya satu pendapat bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan rakyat itu ialah dengan mengenyahkan Jepang.

Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar
Tragedi Mandor 28 Juni 1944 (Foto:tribunnewswiki)

Jepang kemudian mendirikan Nissinkai, semacam organisasi politik yang mendapatkan restu dari Syuutizityo Minseibu Izumi dan Letnan Kolonel Yamakawa. Organisasi ini sebagai satusatunya wadah yang legal menurut Jepang untuk menyalurkan ide-ide politis yang tentu saja harus sejalan dengan kepentingan mereka. Akan tetapi sekuat apapun Jepang mencoba menyetir organisasi ini agar menjadi pendukung mereka, namun di dalamnya justru berhimpun orang-orang yang mengidamkan kebebasan.

Dikemudian hari kelompok aristokrat yang ingin melawan Jepang sebagaimana disebutkan sebelumnya semakin besar dengan bergabungnya sejumlah tokohtokoh politik Nissinkai. Orang-orang tersebut antara lain J.E Pattiasina (Kepala Urusan Umum Kantor Syuutizityo), Notosoedjono (tokoh Parindra), dan Ng Nyap Sun (Kepala Urusan Orang Asing/Kakyo Toseikatyo).

Singkat cerita, karena gerakan ini bersifat rahasia dan bergerak secara bawah tanah, tidak ada yang mengetahui secara pasti apa nama kelompok perlawanan tersebut. Pemimpin kelompok politik tersebut bahkan tidak diketahui secara pasti pemimpinnya. Kelompok rahasia ini lebih sering disebut Gerakan Enam Sembilan karena berjumlah enam puluh sembilan anggota.

Pembantaian tidak hanya terjadi di Mandor, namun juga terjadi di wilayah lain di luar Kalimantan Barat seperti Sambas, Singkawang, Landak termasuk di Pontianak. Akan tetapi jumlah korban terbanyak ditemukan berada di Mandor. Di Kalimantan Barat sendiri penyiksaan kepada rakyat juga dilakukan oleh para mandor perusahaan Jepang yang tentu saja di topang oleh militer mereka.

Pengerahan romusa untuk kepentingan ekonomi Jepang menyedot tenaga rakyat yang sangat banyak jumlahnya. Sebagai contoh, lokasi pertambangan Petikah yang terletak di sekitar hulu Sungai Bunut, Kapuas Hulu, memperkerjakan sekitar 70.000 pekerja yang sebagian besar adalah orang Dayak

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono yang memimpin upacara Hari Berkabung Daerah Kalbar, Selasa (28/6/2022), meminta peringatan ini dijadikan momentum mempererat kebersamaan.

Baca Juga: Festival Meriam Karbit, Tradisi Unik Sambut Idul Fitri 1443H di Kota Pontianak

Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar
Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat di Pontianak (Foto ANTARA/HO-Jimi)

Menurut Edi, generasi muda Kota Pontianak bisa meneladani kisah para insan terbaik pada Peristiwa Mandor. Salah satunya adalah kekompakan dalam upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Semangat itu kita realisasikan dengan produktif berkarya dan bekerja, dan jangan melakukan hal yang melanggar hukum,” kata Edi.

Edi mengatakan, sebagai ibu kota Provinsi Kalbar, Kota Pontianak bisa memberi contoh bagi provinsi lain. Dia meminta ASN Pemkot Pontianak turut menyebarkan semangat kebersamaan ini.(*/DST)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *