Example 160x600
Example 160x600
NewsKesehatanLocal NewsTeknologi

Heboh Pembunuhan Bocah Demi Ginjal, Kominfo Putus Akses 7 Situs dan 5 Grup Medsos

×

Heboh Pembunuhan Bocah Demi Ginjal, Kominfo Putus Akses 7 Situs dan 5 Grup Medsos

Sebarkan artikel ini
Heboh Pembunuhan Bocah
Example 468x60

KhatulistiwaHits.com–Efek dari kasus pembunahan bocah demi ginjal, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memutus akses tujuh situs dan lima grup media sosial yang memuat konten jual beli organ tubuh manusia.

Pemutusan akses itu sudah dilakukan sejak tanggal Kamis (12/01/2023), diantaranya yakni organcity, heavenlyorgans, dan drsamuelbansa. Lainnya belum diungkap.

Mengutip laman resmi kominfo.go.id, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel A. Pangerapan menyatakan pemutusan akses itu dilakukan sesuai permintaan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Kepolisian Negara RI. 

“Kami sudah menerima surat dari Bareskrim Polri kemarin dan hari ini. Isinya meminta Kominfo untuk melakukan pemutusan akses atas tujuh situs yang memuat konten manipulasi data tersebut,” jelasnya di Jakarta Pusat, Jumat (13/01/2023).

Menurut Semuel, sebelumnya Tim AIS Kementerian Kominfo telah melakukan pemantauan terhadap beberapa situs dan akun media sosial yang diduga memuat konten jual beli organ tubuh. 

Heboh Pembunuhan Bocah
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel A. Pangerapan (Foto:suara.com)

“Kami melakukan pencarian situs jual beli organ tubuh manusia seperti yang disampaikan penyidik Kepolisian yang tengah menangani kasus di Makassar dengan laporan adanya situs jual beli organ tubuh lewat Yandex,” tuturnya.

Baca Juga: Microsoft Hentikan Dukungan Win 7 dan Win 8.1, Pengguna Lakukan Solusi Ini

Selain menemukan situs, Tim AIS Kementerian Kominfo juga menemukan lima grup media sosial Facebook dengan konten serupa. Hasil temuan itu kemudian disampaikan ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri untuk mengonfirmasi pelanggaran yang terjadi. 

“Semua datanya kami kirimkan untuk memastikan situs tersebut benar-benar melanggar hukum. Lalu Bareskrim Polri mengirim surat untuk memutus akses 3 situs pada hari Kamis dan hari ini (Jumat) ada 4 situs,” tuturnya.

“Kami melakukan pencarian situs jual beli organ tubuh manusia seperti yang disampaikan penyidik Kepolisian yang tengah menangani kasus di Makassar dengan laporan adanya situs jual beli organ tubuh lewat Yandex,” kata Semuel.

Motif Pelaku Pembunuhan Bocah 

Tindakan pemblokiran ini terkait dengan kasus pembunuhan bocah 11 tahun di Makassar oleh dua orang remaja, AD (17) dan MF (15) beberapa waktu lalu yang menghebohkan. Motifnya adalah penjualan organ tubuh usai terinspirasi dari mesin pencari asal Rusia, Yandex.

Mengutip CNN Indonesia, Kedua tersangka berencana akan menjual organ tubuh korban setelah tergiur dengan harga jual untuk ginjal sebesar US$80 ribu.

“Kalau ginjal harganya 80 ribu dolar atau satu miliar lebih, itu saya baca dari internet,” kata AD di kantor Polrestabes Makassar, Selasa (10/1).

Namun, AD mengaku bingung setelah membunuh korban lantaran orang yang akan ditemani bertransaksi tidak memberikan kabar kelanjutan terkait jual beli organ tubuh korban, sehingga AD dan MF membuang jasad korban ke kolom jembatan di dekat waduk Nipah-nipah.

Heboh Pembunuhan Bocah
Pelaku AD(17) dan MF(15) pembunuhan bocah 11 tahun di makassar dihadirkan dalam konfres Poltabes Makassar(Foto:SS)

“Saya panik di situ, karena dia tidak balas. Saya hubungi tapi tidak dia balas. Saya kenal dari website tidak ada alat. Ada kriteria untuk organ yang akan dijual,” jelasnya.

Pelajaran Penting Dibalik Kasus Pembunuhan Bocah di Makassar

“Ketiga situs tersebut sudah tidak bisa diakses secara normal per Kamis, 12 Januari 2023 pukul 22.00 WIB. Dan empat situs akan diputus aksesnya dalam kurun waktu satu kali 24 jam ke depan,” jelas Dirjen Semuel.

Dirjen Aptika Kementerian Kominfo menyatakan pemutusan akses situs dan akun media sosial dilatari pertimbangan ada indikasi tindak pidana memperjualbelikan atau jaringan tubuh dengan dalih apapun yang dilarang dan sangat meresahkan masyarakat.  

“Berdasarkan hasil profiling dan analisis semua situs itu berada atau dibuat di luar negeri,” tandasnya. 

Dirjen Semuel mendorong masyarakat untuk segera melapor ke Kementerian Kominfo jika menemukan situs sejenis agar bisa dilakukan penanganan sesuai perundangan yang berlaku. 

“Peran masyarakat penting untuk membantu penyidikan. Dan kami mengharapkan masyarakat dapat melaporkan lewat aduankonten.id,” ungkapnya.

Peran terpenting adalah lingkungan terdekat terutama lingkungan keluarga. Peran orang tua dalam mengawasi dan memberikan wawasan terhadap dampak penggunaan media sosial dan informasi yang bersifat daring.(**KH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *