Example 160x600
Example 160x600
Berita

Serangan Ransomware Lumpuhkan Pusat Data Nasional, Pelaku Minta Tebusan Rp 131 Miliar

×

Serangan Ransomware Lumpuhkan Pusat Data Nasional, Pelaku Minta Tebusan Rp 131 Miliar

Sebarkan artikel ini
serangan
Example 468x60

KhatulistiwaHits —  Serangan siber jenis ransomware terbaru bernama Brain Cipher telah melumpuhkan Pusat Data Nasional Sementara di Surabaya, Jawa Timur, mengakibatkan gangguan signifikan pada berbagai layanan publik, termasuk layanan keimigrasian yang paling terdampak. Pelaku serangan siber tersebut menuntut tebusan sebesar USD 8 juta atau setara dengan Rp 131 miliar untuk memulihkan akses data yang terkunci.

Dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada Senin, 24 Juni 2024, Direktur Networks & IT Solutions Telkom, Herlan Wijanarko, menjelaskan bahwa negosiasi dengan pelaku ransomware dilakukan melalui dark web. “Di darkweb itu kita ada jalan ke sana ya, kita ikuti dan mereka minta tebusan USD 8 juta,” ungkap Herlan.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, menambahkan bahwa pelaku serangan mengidentifikasi diri mereka sebagai Brain Cipher, yang merupakan varian mutasi dari ransomware LockBit 3.0. “Mereka menyebutkan namanya Brain Cipher itu varian mutasi dari LockBit 3.0,” ujar Semuel.

Baca juga : Teknologi AI Google Mampu Prediksi Banjir dan Kurangi Polusi Udara

Pusat Data Nasional Sementara yang terkena serangan ini menjadi pusat perhatian karena dampaknya yang meluas, terutama pada layanan keimigrasian yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Selain itu, layanan publik lainnya juga mengalami gangguan signifikan. Semuel menyebutkan bahwa sekitar 210 layanan publik terdampak oleh insiden ini, termasuk sektor Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Hinsa Siburian, Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dalam konferensi pers yang sama, membenarkan serangan ransomware tersebut dan menjelaskan bahwa Brain Cipher adalah pengembangan terbaru dari ransomware LockBit 3.0. “Perlu kami sampaikan insiden Pusat Data Sementara ini dalam bentuk ransomware dengan nama Brain Cipher. Ransomware ini adalah pengembangan terbaru dari Ransomware LockBit 3.0,” ujarnya.

BSSN Benarkan Serangan Ransomware Pusat Data Nasional

Hinsa menambahkan bahwa analisis forensik sementara yang dilakukan oleh BSSN telah mengidentifikasi jenis serangan tersebut. “Jadi, ransomware ini dikembangkan terus. Ini yang terbaru setelah kita lihat dari sampel, sudah dilakukan sementara oleh forensik BSSN,” sambungnya.

Proses pemulihan dan investigasi terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BSSN, Kominfo, Telkom, dan unit Cyber Crime Polri. Tim ini bekerja sama untuk memulihkan layanan yang terdampak dan mengumpulkan bukti-bukti forensik yang diperlukan untuk investigasi lebih lanjut. Hinsa menekankan pentingnya insiden ini sebagai pelajaran bagi semua pihak terkait untuk meningkatkan langkah-langkah mitigasi dan antisipasi terhadap serangan serupa di masa depan.

“Perlu kita ketahui supaya bisa mengantisipasi dan segera kita sampaikan juga kepada instansi maupun teman-teman lain, sekaligus sebagai lesson learn untuk kita mitigasi kemungkinan terjadi lainnya,” kata Hinsa.

Meski upaya pemulihan terus berlangsung, pemerintah belum dapat menyebutkan secara pasti besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh serangan ini. Namun, dampaknya yang signifikan terhadap layanan publik menandakan bahwa insiden ini merupakan salah satu serangan siber terbesar yang pernah dialami Indonesia.

Baca juga : Open AI Luncurkan Sora, Teknologi Pembuat Video Dengan Modal Teks

Serangan ransomware ini menunjukkan semakin kompleksnya ancaman siber yang dihadapi oleh berbagai institusi, baik pemerintah maupun swasta. Untuk itu, langkah-langkah preventif dan responsif yang lebih baik sangat dibutuhkan untuk melindungi infrastruktur digital yang vital bagi keberlangsungan layanan publik.

Ke depannya, koordinasi antara berbagai lembaga keamanan siber, baik di tingkat nasional maupun internasional, perlu ditingkatkan. Selain itu, kesadaran dan edukasi mengenai keamanan siber bagi seluruh lapisan masyarakat dan instansi pemerintah menjadi kunci dalam mencegah terjadinya serangan serupa di masa mendatang.