KhatulistiwaHits, Pontianak – Ratusan peserta memadati Ballroom Harris Hotel Pontianak dalam gelaran Independence Day Artificial Intelligence Conference 2025. Acara ini diselenggarakan oleh Digital Creative Community (DICO) bersama Asosiasi Pengguna Artificial Intelligence Indonesia (APAII), dengan dukungan penuh dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai sponsor utama.
Independence Day Artificial Intelligence Conference 2025: AI untuk Pendidikan Merdeka
Dalam sambutannya, Dedi Saputra selaku Head of DICO Pontianak, menegaskan bahwa transformasi digital adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. “Teknologi kecerdasan buatan akan menjadi penggerak utama dalam menciptakan sistem pembelajaran yang lebih efektif, cepat, dan berorientasi pada kebutuhan siswa,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara akademisi, pemerintah, dan industri untuk menjadikan Pontianak sebagai pusat inovasi pendidikan berbasis teknologi di Kalimantan Barat.
Sementara itu, Linda Soleha, Pendamping Satuan Pendidikan sekaligus PIC Kurikulum Merdeka, menyampaikan bahwa AI selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka yang memberi ruang kreativitas bagi guru dan siswa. “Kehadiran AI memperkuat prinsip fleksibilitas dan adaptivitas dalam pembelajaran. Teknologi juga dapat menjangkau sekolah di daerah yang masih terbatas sumber daya, sehingga akses belajar semakin merata,” ujarnya.
Dukungan penuh datang dari Ir. Eri Bayu Pratama Kepala kampus UBSI kampus Pontianak. Ia menegaskan komitmen UBSI untuk melahirkan generasi unggul yang kreatif dan siap menghadapi era digital. “Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus didorong menjadi pencipta solusi digital yang bermanfaat bagi masyarakat dan memperkuat daya saing bangsa,” tegasnya.
Sebagai pemateri, Hajon Mahdy Mahmudin selaku Chairman PT. Kreasi Putra Hotama menjelaskan bahwa AI mampu menghadirkan pengalaman belajar yang personal. “AI bisa menyesuaikan gaya belajar siswa serta memberikan rekomendasi materi sesuai kebutuhan mereka. Namun, AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru, justru memperkuat peran mereka agar lebih fokus pada interaksi dan pendampingan siswa,”
Senada dengan itu, Rana Rayendra, Founder & CEO Postinc Media, menekankan bahwa AI dapat mendorong kreativitas belajar melalui konten interaktif, simulasi, hingga media berbasis augmented reality. “Guru tidak akan tergantikan teknologi. Justru kolaborasi antara guru dan AI akan menciptakan ekosistem pembelajaran yang menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda,” ungkapnya.
Konferensi ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, untuk semakin terbuka pada pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan AI tidak hanya menjadi alat, melainkan motor penggerak lahirnya generasi emas yang siap bersaing di kancah global.















