Example 160x600
Example 160x600
Film

Sumala: Kisah yang Tersimpan di Balik Layar

×

Sumala: Kisah yang Tersimpan di Balik Layar

Sebarkan artikel ini
kisah sumala
Example 468x60

Khatulistiwa--misteri film kisah sumala Di tengah hiruk-pikuk dunia hiburan digital yang serba cepat, muncul satu karya yang diam-diam mencuri perhatian publik: “Sumala”. Film ini tak hanya menjadi bahan perbincangan karena visualnya yang menawan, tetapi juga karena kisah mendalam yang tersimpan di balik proses pembuatannya.

Kisah “Sumala” bermula pada tahun 1948

film sumala

Film yang disutradarai oleh Alya Prameswari, sutradara muda yang dikenal lewat gaya sinematografinya yang puitis, mengangkat tema tentang kehilangan, pencarian jati diri, dan harapan. Namun siapa sangka, proses di balik layar “Sumala” ternyata penuh lika-liku emosional yang tak banyak diketahui publik.

Di balik adegan-adegan indah dan dialog penuh makna, tim produksi “Sumala” menghadapi tantangan berat selama proses syuting. Lokasi utama yang berada di kawasan pegunungan Jawa Barat sempat diterpa hujan lebat selama berminggu-minggu. Kru terpaksa bekerja ekstra untuk menjaga peralatan dan jadwal syuting agar tidak mundur. “Kami seperti berperang dengan alam,” ujar Alya sambil tertawa mengenang masa itu.

Namun, justru di tengah kesulitan itulah lahir keajaiban. Beberapa adegan yang awalnya tidak direncanakan justru muncul secara spontan di lokasi, terinspirasi oleh suasana hujan dan kabut. “Itu momen yang magis,” kata Rama Santosa, pemeran utama “Sumala”. “Alya bilang, biarkan alam ikut bercerita — dan hasilnya justru jadi bagian paling disukai penonton.”

Kisah di balik layar “Sumala” tak berhenti di situ. Ada pula cerita mengharukan tentang hubungan antar-pemain yang tumbuh selama proses syuting. Beberapa dari mereka datang dari latar belakang berbeda — ada yang baru pertama kali bermain film, ada pula yang sudah veteran. Tapi semuanya sepakat: “Sumala” membuat mereka merasa menjadi keluarga.

baca Juga: Mengharukan! Kisah Pengorbanan Seorang Ibu dalam Film ‘Bila Esok Ibu Telah Tiada

“Film ini bukan sekadar proyek, tapi perjalanan emosional,” ungkap Alya. Ia mengaku terinspirasi dari kisah pribadi sang ibu yang sempat kehilangan arah setelah kehilangan orang terkasih. “Saya menulis naskah ini sebagai bentuk penyembuhan. Jadi, setiap adegan punya makna pribadi.”

Kekuatan “Sumala” juga terletak pada cara film ini berbicara tentang kesunyian dan keberanian menghadapi luka. Tanpa banyak efek visual mencolok, film ini justru memikat lewat kesederhanaan. “Penonton zaman sekarang haus akan kejujuran,” kata Rama. “Dan ‘Sumala’ memberikan itu.”

Saat tayang perdana di Festival Film Indonesia 2025, “Sumala” berhasil membuat penonton terdiam — bukan karena bosan, tapi karena terhanyut dalam keindahan yang sunyi. Tangis, tawa, dan tepuk tangan bergema setelah kredit terakhir mengalun. Bahkan, banyak penonton mengaku perlu waktu untuk ‘keluar’ dari suasana film itu.

Kini, di media sosial, tagar #KisahSumala viral di berbagai platform. Cuplikan di balik layar yang memperlihatkan keakraban kru dan pemeran menuai jutaan penayangan. Banyak warganet terinspirasi oleh semangat tim di balik film tersebut. “Ternyata perjuangan mereka sebesar itu,” tulis salah satu komentar di TikTok.

Lebih dari sekadar film, “Sumala” menjadi simbol bahwa setiap karya besar selalu lahir dari perjuangan dan perasaan yang tulus. Kisah yang tersimpan di balik layar kini ikut hidup — bukan hanya di bioskop, tapi juga di hati mereka yang menontonnya.