Example 160x600
Example 160x600
Pendidikan

Revolusi Dunia Kerja Digital 2025: 8 Pekerjaan Generasi Z dan Milenial Memanfaatkan Generative AI Secara Strategis dan Etis

×

Revolusi Dunia Kerja Digital 2025: 8 Pekerjaan Generasi Z dan Milenial Memanfaatkan Generative AI Secara Strategis dan Etis

Sebarkan artikel ini
gen ai
Example 468x60

KhatulistiwaHits.com, Pontianak — Transformasi digital yang semakin masif pada tahun 2025 menandai era baru dalam dunia kerja global. Generative Artificial Intelligence (Gen AI) bukan lagi sekadar inovasi, melainkan katalis utama dalam mengubah cara manusia bekerja, berpikir, dan menciptakan nilai. Berdasarkan survei global bertajuk Gen Z and Millennial Survey 2025 yang dilakukan pada periode 25 Oktober 2024 hingga 10 Januari 2025, tercatat 57% Generasi Z dan 56% Milenial telah menggunakan Gen AI dalam pekerjaan mereka sehari-hari.

Temuan ini menunjukkan bahwa AI generatif bukan sekadar teknologi pendukung, melainkan fondasi baru dalam cara bekerja.Dilansir dari Databoks, Delapan jenis pekerjaan tercatat paling banyak mengadopsi Gen AI, antara lain: analisis data, pembuatan konten, desain kreatif, manajemen proyek, strategi bisnis, pelatihan dan pengembangan, software development, dan dukungan pelanggan. Keseimbangan adopsi antara Generasi Z dan Milenial menjadi bukti bahwa teknologi ini telah melampaui batas generasi dan profesi.

Gen AI sebagai Katalis Transformasi, Bukan Pengganti Peran Manusia

Di bidang analisis data, misalnya, Gen AI membantu mempercepat pembersihan data, menemukan pola  tersembunyi, dan menghasilkan wawasan lebih cepat. Sementara itu, di sektor kreatif, teknologi ini digunakan untuk mempercepat proses desain, mengembangkan ide konten, serta menyusun draf awal yang kemudian disempurnakan secara manual.

Namun, di balik tingginya angka penggunaan, tantangan besar juga muncul: rendahnya pemahaman terkait etika penggunaan, potensi bias, serta batasan kemampuan AI. Mengandalkan AI tanpa validasi manusia dapat menyebabkan kesalahan interpretasi, terlebih jika konteks bisnis tidak dipahami oleh model AI.

Inilah pentingnya literasi Gen AI, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari perspektif etika dan penggunaan yang bijak. Pendidikan mengenai AI harus mencakup keterampilan seperti prompt engineering, verifikasi fakta, serta kemampuan mengenali kapan AI tepat digunakan dan kapan campur tangan manusia lebih dibutuhkan.

Masa Depan Kolaboratif: Bukan AI vs Manusia, Tapi AI + Manusia

Kolaborasi manusia dan AI menjadi model ideal kerja masa depan. Dalam manajemen proyek, Gen AI dapat membantu perencanaan dan alokasi sumber daya, tetapi tetap membutuhkan intuisi manusia untuk membuat keputusan strategis. Demikian pula dalam pengembangan perangkat lunak, AI bisa mempercepat coding, namun desain sistem dan pengalaman pengguna masih sangat bergantung pada kreativitas manusia.

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, telah memahami hal ini dan beradaptasi dengan baik. Lisnawanty, Kaprodi Informatika UBSI kampus Pontianak mengungkapkan bahwa mahasiswa tidak hanya dibekali dengan keterampilan teknis, tetapi juga dengan wawasan kritis tentang  pemanfaatan AI secara etis dan produktif.

Baca juga : Transformasi Sistem Informasi Akuntansi: Tren Teknologi Terkini dan Prediksi 5 Tahun ke Depan di Ranah Pendidikan

“Di era sekarang, kami mendorong mahasiswa tidak hanya menguasai coding atau software development, tetapi juga memahami bagaimana teknologi seperti AI bisa digunakan secara etis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam dunia kerja nyata,” ujar Lisnawanty.

Dengan demikian, pemanfaatan Gen AI di dunia kerja bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis yang harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang adaptif, kritis, dan beretika. Dunia kerja tidak sedang digantikan oleh mesin, tetapi justru diperluas oleh kolaborasi cerdas antara manusia dan teknologi.