KhatulistiwaHits, Jakarta — Scroll timeline, pasti kamu pernah lihat dua versi cerita tentang lulusan kuliah hari ini. Di satu sisi, ada narasi awalnya sempat viral puluhan ribu lulusan sarjana dan magister duduk manis, diam, bahkan disebut “putus asa” karena nggak lagi cari kerja. Katanya jurusan nggak relevan, ekspektasi gaji terlalu tinggi, atau dipinggirkan karena usia. Narasi itu keliatannya dramatis banget kalau cuma dipotong satu sisi saja.
Tapi kalau kita lihat realitasnya, cerita itu bukan keseluruhan kisah. Di sisi lain, justru banyak banget generasi sekarang yang nggak lagi mau nunggu panggilan perusahaan atau ngetik CV berkali-kali tanpa ada kepastian. Mereka mulai buka usaha sendiri, bangun brand, bikin start-up, dan ikut ngisi ekosistem UMKM yang saat ini jadi peluang kerja paling nyata di Indonesia.
Ketika Lulusan Memilih Bikin Jalan Sendiri
Dilansir dari Katadata, struktur wirausaha di Tanah Air. Hingga 2025 jumlah UMKM di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 66 juta unit usaha dari yang mikro sampai menengah dan sektor ini jadi tulang punggung ekonomi karena menyerap puluhan juta tenaga kerja. Data ini jelas menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia dari berbagai latar pendidikan memutuskan untuk jadi pembuka lapangan kerja, bukan cuma pencari lowongan.
Yang makin menarik, tren kewirausahaan ini juga terlihat di kalangan anak muda. Banyak generasi baru yang nggak mau sekadar jadi pekerja biasa, tapi justru mau kreatif menentukan nasib sendiri. Mulai dari bisnis digital, layanan berbasis komunitas, sampai start-up teknologi semua tumbuh karena mereka berani keluar dari zona nyaman.
Baca juga: Dari Pencari Kerja ke Pencipta Solusi: Lulusan S2 UBSI Tak Sekadar Cari Lowongan
Pendidikan Tinggi di Tengah Gelombang Wirausaha Digital
Nah, justru di momen seperti inilah peran pendidikan tinggi menjadi relevan banget kalau dikemas dengan cara yang benar. Bukan sekadar ngasih gelar, tapi menyiapkan lulusan supaya bisa bertindak sebagai Start-Up Developer: orang yang punya mindset dan kompetensi buat bikin usaha yang bukan hanya hidup, tapi siap bertumbuh di era digital ini.
Program Magister S2 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), contohnya, mengadopsi pendekatan ini dengan serius. Di sana, mahasiswa nggak cuma belajar teori manajemen atau bisnis biasa, tapi juga dikembangkan untuk berpikir kreatif, inovatif, dan siap memimpin usaha berbasis ekonomi kreatif serta transformasi digital. Fokusnya bukan sekadar masuk kerja, tapi bikin kerja buka peluang untuk diri sendiri dan orang lain.
Generasi Baru, Cara Baru Membangun Karier
Jadi, kalau ada yang bilang lulusan sekarang “putus asa” karena sulitnya kerja, bisa jadi ceritanya salah fokus. Banyak dari mereka sebenarnya lagi dalam proses adaptasi, menggeser cara pandang dari pencari kerja ke pencipta peluang. Dunia memang berubah, dan yang berhasil bukan selalu mereka yang nunggu lowongan, tapi mereka yang siap menciptakan lapangan kerja sendiri.
Dan buat kamu yang lagi mikir gaya hidup karier biar nggak stuck di zona nyaman, bisa jadi langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana kombinasi ilmu, kreativitas, dan strategi bisnis bisa jadi bekal kamu untuk jadi aktor perubahan, bukan cuma penonton.(Siti Hafizah)













