
Khatulistiwa–Jakarta — Suasana aula utama Masjid Al-Muhajirin pada Sabtu malam tampak berbeda dari biasanya. Ratusan anak muda memadati ruangan untuk mengikuti kajian akhir pekan yang dibawakan Ustadz Naufal, seorang penceramah muda yang belakangan viral di media sosial berkat gaya penyampaiannya yang lugas, relevan, dan mudah dipahami generasi masa kini.

Dalam kajian bertema “Menjaga Moral di Era Digital”, Ustadz Naufal membuka sesi dengan membahas bagaimana perubahan teknologi dalam satu dekade terakhir mempengaruhi karakter dan perilaku generasi muda. Ia menyoroti bahwa kemudahan akses informasi membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan besar dalam menjaga integritas diri.
Menurutnya, tantangan moral yang dihadapi anak muda saat ini tidak lagi sekadar pergaulan, tetapi juga bagaimana mereka mengelola “dunia kedua” di layar ponsel. “Apa yang kita konsumsi setiap hari, meski hanya lewat layar, bisa mengubah hati pelan-pelan. Tantangan moral hari ini lebih halus, cepat, dan sering tidak kita sadari,” jelas Ustadz Naufal di hadapan jamaah.
Para peserta yang sebagian besar berusia 16–25 tahun terlihat antusias mencatat poin-poin penting ceramah. Ustadz Naufal menekankan bahwa gawai bukan musuh, namun perlu diatur agar tidak mengambil alih kendali hidup seseorang. Ia bahkan menambahkan bahwa literasi digital merupakan bagian dari akhlak, karena menyangkut bagaimana seseorang memilih informasi dan berinteraksi di media sosial.
Dalam sesi selanjutnya, Ustadz Naufal membahas fenomena self-diagnose, oversharing, dan budaya validasi sosial yang terjadi di berbagai platform digital. Ia mengajak anak muda untuk lebih memahami batasan privasi serta membangun konsep diri yang tidak bergantung pada “likes” atau komentar netizen. “Harga diri itu datang dari Allah, bukan dari jumlah pengikut,” ujarnya disambut tepuk tangan.
baca juga:Khutbah Jumat: Wasathiyyah di Era Digital: Menangkal Radikalisasi dan Ekstremisme”.
Tak hanya memberikan ceramah, Ustadz Naufal juga mengajak peserta berdialog. Banyak dari mereka bertanya tentang kecanduan konten tidak bermanfaat, pergaulan toksik di dunia maya, hingga strategi mengatur waktu agar tidak larut dalam scroll tanpa henti. Ustadz Naufal memberikan tips sederhana seperti membatasi waktu penggunaan aplikasi, membuat jurnal aktivitas, serta memperbanyak kegiatan positif di dunia nyata.
Dalam salah satu poin pentingnya, ia menekankan pentingnya digital self-control. “Kalau generasi kita kuat mengendalikan diri di dunia digital, maka kita bisa menjadi generasi yang lebih berakhlak, lebih produktif, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Menjelang akhir kajian, Ustadz Naufal mengajak seluruh peserta untuk menjadikan media sosial sebagai sarana kebaikan, bukan sumber masalah. Ia mengingatkan bahwa setiap postingan adalah jejak digital yang bisa menjadi saksi di masa depan. Karena itu, ia mendorong anak muda untuk lebih bijak, kreatif, dan bertanggung jawab dalam beraktivitas online.
Kajian tersebut ditutup dengan doa bersama dan penggalangan komitmen dari para peserta untuk memulai tantangan “7 Hari Detox Digital”, sebuah ajakan untuk mengurangi konsumsi konten berlebihan dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih produktif.
Antusiasme yang terlihat malam itu menunjukkan bahwa isu moral di era digital menjadi perhatian besar generasi muda. Kehadiran Ustadz Naufal sebagai figur yang memahami dunia mereka membuat kajian ini bukan hanya sekadar ceramah, tetapi ruang refleksi bersama tentang bagaimana hidup dengan nilai-nilai Islam di tengah derasnya arus teknologi modern.(nayla)








