Example 160x600
Example 160x600
BeritaKesehatan

Tren Puasa Ramadhan 2025 Jadi Metode Diet: Antara Spiritualitas dan Efektivitas Menurunkan Berat Badan

×

Tren Puasa Ramadhan 2025 Jadi Metode Diet: Antara Spiritualitas dan Efektivitas Menurunkan Berat Badan

Sebarkan artikel ini
tren puasa diet 2025
Example 468x60

Khatulistiwa,–Menjelang bulan suci Ramadhan 2025, pembahasan seputar manfaat puasa selalu mencuri perhatian publik. Tak hanya dari sisi spiritual, kini banyak orang yang melihat puasa sebagai kesempatan untuk memperbaiki pola makan dan menurunkan berat badan. Fenomena ini bahkan semakin populer di media sosial, dengan banyak influencer kesehatan membagikan tips “diet ala Ramadhan”. Namun, benarkah puasa Ramadhan efektif dijadikan metode diet yang sehat?

trend puasa diet tahun 2025 yang banyak digemari oleh orang sekarang
Fto Dari( https://klinikbamed.com/)

Secara ilmiah, puasa memang memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh. Ketika seseorang menahan makan dan minum selama lebih dari 12 jam, tubuh akan mulai menggunakan cadangan energi dari lemak. Hal ini berpotensi menurunkan berat badan jika dilakukan dengan benar. Namun, tidak sedikit yang justru mengalami peningkatan berat badan selama Ramadhan akibat pola makan yang berlebihan saat sahur dan berbuka.

Pandangan Ilmiah: Apa Kata Ahli Gizi?

Ahli gizi dari Universitas Indonesia, dr. Rini Saraswati, M.Gizi, menjelaskan bahwa efektivitas puasa Ramadhan sebagai metode diet sangat bergantung pada keseimbangan asupan. “Puasa bisa membantu menurunkan berat badan, tetapi kalau buka puasanya malah jadi ajang balas dendam makan gorengan dan minuman manis, hasilnya bisa berbalik,” ujarnya dalam sebuah webinar kesehatan, Jumat (11/10).

Menurutnya, prinsip utama diet sehat selama Ramadhan adalah pengaturan porsi dan pemilihan makanan yang bergizi seimbang. Saat berbuka, disarankan untuk memulai dengan air putih dan kurma, dilanjutkan dengan makanan yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat. Hindari konsumsi karbohidrat sederhana berlebihan seperti nasi putih dalam jumlah besar, kolak, atau minuman sirup.

Di sisi lain, puasa juga memiliki manfaat metabolik yang cukup signifikan. Beberapa studi menyebutkan bahwa puasa dapat membantu memperbaiki sensitivitas insulin, menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), serta mengurangi peradangan dalam tubuh. Artinya, puasa tidak hanya berpotensi menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan kesehatan secara keseluruhan bila dijalankan dengan gaya hidup yang benar.

Perbandingan: Puasa Ramadhan vs Intermittent Fasting

Puasa Ramadhan dan intermittent fasting (IF) sering kali disamakan karena keduanya sama-sama melibatkan pembatasan waktu makan. Namun, meskipun tampak serupa di permukaan, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam tujuan, durasi, serta dampaknya terhadap tubuh dan pikiran.Namun, perlu diingat bahwa puasa Ramadhan berbeda dengan metode intermittent fasting yang sering digunakan dalam dunia diet modern. Dalam puasa Ramadhan, durasi tanpa makan dan minum bisa mencapai 13 hingga 14 jam, tergantung wilayah. Selain itu, tidak diperbolehkan minum air selama waktu tersebut, yang bisa berdampak pada hidrasi tubuh bila tidak diperhatikan dengan baik.

Tren “diet Ramadhan” kini bahkan menjadi konten viral di TikTok dan Instagram. Banyak kreator berbagi pengalaman berhasil menurunkan berat badan 3–5 kilogram dalam sebulan. Meski demikian, pakar kesehatan menekankan bahwa hasil tersebut tidak akan bertahan lama jika setelah Ramadhan seseorang kembali ke pola makan lama. Oleh karena itu, konsistensi setelah bulan puasa adalah kunci utama keberhasilan diet jangka panjang.

Aspek Hidrasi dan Energi

Salah satu perbedaan terbesar adalah aturan minum. Dalam puasa Ramadhan, menahan diri dari minum dapat membuat tubuh lebih cepat dehidrasi, terutama di cuaca panas. Pada IF, tubuh tetap terhidrasi karena cairan tetap diperbolehkan. Hal ini membuat IF lebih fleksibel bagi orang yang ingin menjalankannya setiap hari di luar bulan Ramadhan.

Dampak Psikologis dan Sosial

Puasa Ramadhan tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada mental dan sosial. Momen berbuka puasa sering dijadikan ajang kebersamaan dan refleksi diri. Sementara intermittent fasting bersifat individual dan fokus pada manajemen diri. Jadi, dari sisi spiritual dan sosial, Ramadhan jauh lebih kaya makna.Puasa juga memiliki dimensi mental yang bisa membantu seseorang lebih disiplin terhadap makanan. Dengan menahan diri dari lapar dan haus, individu dilatih untuk lebih sadar terhadap kebutuhan tubuh, bukan sekadar keinginan. Psikolog klinis, dr. Nanda Putri, menilai bahwa puasa dapat menjadi momentum untuk reset mindset terhadap makanan dan gaya hidup.

Namun, bukan berarti semua orang cocok menjadikan puasa sebagai metode diet. Beberapa individu dengan kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, maag kronis, atau tekanan darah rendah perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba. Jika dilakukan tanpa pengawasan, puasa justru bisa menimbulkan efek samping seperti dehidrasi, lemas, dan penurunan konsentrasi.

Baca Juga:Tips Menjaga Kesehatan Pasca Hari Raya Idul Fitri

Risiko dan Tantangan

Puasa Ramadhan bisa menjadi tantangan bagi individu yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti maag kronis atau tekanan darah rendah. Sementara IF, meski lebih fleksibel, juga berisiko bila dilakukan tanpa panduan — seperti kehilangan massa otot atau gangguan hormon pada wanita.Keduanya tetap membutuhkan kesadaran nutrisi dan pemahaman akan kondisi tubuh masing-masing.

Pada akhirnya, puasa Ramadhan memang bisa menjadi waktu yang ideal untuk menata kembali gaya hidup, termasuk pola makan. Akan tetapi, menjadikannya sebagai metode diet membutuhkan kesadaran dan pengendalian diri yang konsisten. Puasa bukan sekadar tidak makan dan minum, tetapi juga tentang belajar menyeimbangkan kebutuhan tubuh dan jiwa. Jadi, jika ingin menjadikan Ramadhan sebagai momen diet alami, lakukan dengan niat yang tepat: memperbaiki diri, bukan sekadar menurunkan angka di timbangan.(Kiara Alma Nafasha)