KhatulistiwaHits, Pontianak – Keberagaman suku dan agama menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan harmoni sosial di Kota Pontianak. Sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat nilai toleransi dan persatuan, mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak turut berpartisipasi dalam dialog interaktif Ruang Terbuka yang diselenggarakan LPP RRI Pontianak pada Kamis (12/2) di Rumah Dinas Ketua DPRD Kota Pontianak, Jalan Abdul Rahman Saleh BLKI Pontianak. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Menjaga Harmoni Antar Suku dan Agama”.
Kehadiran BEM dan Himpunan Mahasiswa
Partisipasi mahasiswa dalam forum ini menjadi bukti bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada pengembangan akademik, tetapi juga pada penguatan karakter dan kepedulian sosial. Kehadiran BEM UBSI kampus Pontianak menunjukkan komitmen nyata generasi muda dalam merawat kebhinekaan di tengah masyarakat yang majemuk.
BEM UBSI kampus Pontianak diwakili oleh Nirmala Nursantika dan Irfan Abdurrahman. Selain BEM, kegiatan ini juga diikuti oleh perwakilan Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Akuntansi (HIMASA), Himpunan Mahasiswa Informatika (HIMAIF), serta Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMSI) UBSI kampus Pontianak.
Mahasiswa Siap Jadi Agen Perdamaian
Nirmala Nursantika menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa dalam forum tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap isu kerukunan antarumat beragama dan antarsuku.
“Mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Dialog seperti ini membuka ruang diskusi yang sehat dan memperkuat semangat toleransi,” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (13/2).
Irfan Abdurrahman menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa tidak hanya sebatas hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif.
“Sebagai mahasiswa UBSI, kami ingin menunjukkan bahwa generasi muda siap menjadi agen perdamaian dan menjaga persatuan di masyarakat,” katanya.
Baca juga: BEM UBSI Kampus Pontianak Ikuti Workshop Manajemen Kepemimpinan untuk Organisasi Kepemudaan
Dialog ini menghadirkan Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pontianak, serta Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak sebagai narasumber. Diskusi menekankan pentingnya komunikasi lintas budaya, kolaborasi antarorganisasi masyarakat, serta peran generasi muda dalam mencegah potensi konflik sosial.
UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif secara konsisten mendorong mahasiswanya untuk aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang berdampak positif. Melalui keterlibatan dalam dialog publik seperti ini, mahasiswa diharapkan mampu mengimplementasikan nilai toleransi, memperluas wawasan kebangsaan, serta menjadi agen harmoni baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat Pontianak.(Tiara Sari)












