KhatulistiwaHits, Pontianak — Tidak semua orang bisa menceritakan luka yang mereka rasakan. Ada yang memilih diam, memendam semuanya sendiri, lalu pelan-pelan mencoba pulih tanpa banyak diketahui orang lain. Perasaan itulah yang terasa begitu hidup dalam karya seni bertajuk Silent Symphony yang dipamerkan di ajang Canfas2k26, Port 99 Pontianak, Jumat hingga Sabtu, 1–2 Mei 2026.
Mengusung tema “Charity Night: For All From Us”, Canfas2k26 menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus menyampaikan pesan sosial lewat seni dan kegiatan donasi. Di antara banyak karya yang dipamerkan, Silent Symphony menjadi salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung.
Bukan karena tampilannya paling mencolok, tetapi karena pesan yang dibawanya terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Karya itu seperti mengajak pengunjung masuk ke ruang penuh emosi tentang lelah, luka batin, dan harapan untuk kembali bangkit.
Karya Sunyi yang Membuat Banyak Orang Merasa “Pernah Ada di Titik Itu”
Karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Hani Ulfiah Rachim, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak, bersama Ricol. Mengusung konsep mixed media berupa lukisan dan instalasi, Silent Symphony menghadirkan banyak simbol yang menggambarkan perjalanan seseorang saat mencoba berdamai dengan rasa sakit dalam hidupnya.
Salah satu visual yang paling mencuri perhatian adalah sosok tubuh retak di tengah karya. Retakan itu menggambarkan luka emosional, tekanan hidup, hingga rasa hancur yang sering kali tidak terlihat dari luar. Namun di balik retakan tersebut, tumbuh bunga dan kupu-kupu yang menjadi simbol harapan, pertumbuhan, dan kesempatan untuk memulai hidup yang baru setelah melewati masa sulit.
Baca juga: Daftar 5 Kampus Populer di Pontianak Versi uniRank 2026, Siapa Teratas?
Tak hanya itu, sosok di kursi roda dalam karya tersebut juga memberi gambaran bahwa proses untuk pulih tidak pernah mudah. Ada perjalanan panjang, rasa lelah, bahkan kesunyian yang harus dilewati seseorang sebelum akhirnya bisa kembali melangkah.
Hal itulah yang membuat banyak pengunjung merasa relate dengan karya tersebut. Tanpa disadari, Silent Symphony seperti sedang menceritakan pengalaman banyak orang yang pernah berada di titik paling rapuh dalam hidup mereka.
Baca juga: Bijak Manfaatkan AI, Dosen UBSI Kampus Pontianak Spill Cara Jadi Generasi Digital yang Produktif
Dari Retakan, Bunga dan Kupu-Kupu Tumbuh sebagai Simbol Harapan
Hani mengatakan bahwa karya tersebut lahir dari refleksi terhadap realita yang banyak dialami generasi muda saat ini, terutama soal kesehatan mental, tekanan hidup, dan perjuangan untuk tetap bertahan di tengah keadaan yang tidak selalu baik-baik saja.
“Melalui Silent Symphony, saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang pasti pernah berada di titik lelah atau hancur. Namun dari keadaan itu, selalu ada kesempatan untuk tumbuh kembali. Kadang proses pulih memang sunyi dan tidak terlihat, tetapi itu tetap sebuah perjalanan yang berarti,” ujar Hani.
Baca juga: IPK Tinggi di Era AI Tak Lagi Menjamin Karier, Dunia Kerja Kini Makin Selektif
Saat Seni Menjadi Media Empati dan Pesan Kemanusiaan
Yoki Firmansyah, Koordinator Kemahasiswaan UBSI kampus Pontianak, mengatakan bahwa UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus mendorong mahasiswa untuk berkembang tidak hanya dalam bidang akademik dan teknologi, tetapi juga melalui karya seni yang memiliki nilai empati dan pesan sosial.
“Karya yang ditampilkan Hani memiliki pesan yang sangat mendalam dan relevan dengan kehidupan saat ini. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa UBSI kampus Pontianak tidak hanya berkembang dalam bidang teknologi dan akademik, tetapi juga mampu menghadirkan karya seni yang penuh makna dan nilai kemanusiaan,” ungkap Yoki pada Rabu (20/5).
Melalui Canfas2k26, mahasiswa UBSI kampus Pontianak menunjukkan bahwa seni bukan sekadar soal visual yang indah. Lebih dari itu, seni bisa menjadi ruang untuk bercerita, menyampaikan perasaan yang sulit diucapkan, sekaligus pengingat bahwa setiap luka selalu punya kesempatan untuk pulih.









