Example 160x600
Example 160x600
Berita

Fenomena Banyak Gen Z Dipecat Setelah Masuk Kerja, Pakar Ungkap Penyebab dan Cara Bertahan di Dunia Profesional

×

Fenomena Banyak Gen Z Dipecat Setelah Masuk Kerja, Pakar Ungkap Penyebab dan Cara Bertahan di Dunia Profesional

Sebarkan artikel ini
Gen Z
Example 468x60

Khatulistiwahits–Fenomena banyaknya pekerja Gen Z yang dipecat tak lama setelah diterima kerja kembali menjadi sorotan. Sejumlah survei internasional menunjukkan perusahaan mulai menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan karyawan muda, terutama mereka yang baru memasuki dunia profesional. Mulai dari masalah komunikasi, etika kerja, hingga kesulitan beradaptasi disebut menjadi faktor utama.

Sebuah laporan yang dikutip Wolipop menyebut sekitar 60 persen perusahaan mengaku memberhentikan karyawan Gen Z dalam beberapa bulan pertama bekerja. Bahkan sebagian manajer perekrutan menilai banyak pekerja muda belum siap menghadapi budaya kerja profesional yang penuh tekanan dan target.

Dinilai Punya Ekspektasi Berbeda dengan Perusahaan

Profesor Stern School of Business NYU, Suzy Welch, menilai akar persoalan bukan semata kemampuan kerja, melainkan adanya ketidaksesuaian nilai antara Gen Z dan perusahaan modern.

Menurutnya, banyak Gen Z lebih mengutamakan self-care, work-life balance, kesehatan mental, serta kebebasan berekspresi. Sementara perusahaan masih menempatkan pencapaian target, etos kerja tinggi, dan orientasi karier sebagai prioritas utama. Perbedaan ekspektasi inilah yang sering memicu benturan di lingkungan kerja.

Tak sedikit perusahaan menilai pekerja Gen Z:

  • kurang inisiatif,
  • sulit menerima kritik,
  • kurang profesional,
  • lemah dalam komunikasi interpersonal,
  • hingga kesulitan bekerja dalam tim.

Media Sosial dan Budaya Digital Disebut Berpengaruh

Ka. BSI Career Center Universitas BSI Kampus Pontianak, Reza Maulana, menyebut media sosial juga ikut membentuk pola komunikasi Gen Z yang lebih santai dan informal. Kebiasaan ini terkadang terbawa ke lingkungan kerja profesional yang masih menjunjung komunikasi formal dan etika korporasi.

Beberapa kasus bahkan menunjukkan pekerja muda kehilangan pekerjaan karena unggahan media sosial yang dianggap tidak profesional atau melanggar aturan perusahaan.

Baca Juga: Gak Cuma Cari Kerja, Gen Z Sekarang Bisa Ciptakan Kerja! Ini Cara Jadi Entrepreneur di Era Fintech

Selain itu, generasi muda dinilai memiliki ekspektasi tinggi terhadap gaji, fleksibilitas, dan kenyamanan kerja sejak awal karier. Ketika realitas pekerjaan tidak sesuai harapan, banyak yang merasa cepat burnout atau memilih resign.

Pakar Beri Saran Agar Gen Z Bertahan di Dunia Kerja

Meski begitu, para ahli menilai Gen Z sebenarnya memiliki banyak potensi. Mereka dikenal kreatif, cepat beradaptasi dengan teknologi, serta berani membawa ide-ide baru ke perusahaan.

Agar bisa bertahan dan berkembang di dunia profesional, pakar menyarankan Gen Z mulai memperkuat soft skill dan memahami budaya kerja secara realistis. Beberapa kemampuan yang dianggap penting antara lain:

  • komunikasi profesional,
  • manajemen waktu,
  • kemampuan menerima feedback,
  • disiplin kerja,
  • serta kemampuan kolaborasi tim.

Pemerintah melalui Bappenas bahkan menilai lemahnya soft skill menjadi salah satu penyebab utama banyak Gen Z kesulitan bertahan di dunia kerja. Karena itu, pengalaman organisasi, komunitas, magang, hingga aktivitas sukarela dinilai penting untuk melatih kesiapan profesional sejak dini.

Perusahaan Juga Diminta Beradaptasi

Fenomena ini tidak sepenuhnya dibebankan kepada Gen Z. Sejumlah pakar menilai perusahaan juga perlu menyesuaikan pola kepemimpinan dengan karakter generasi baru yang tumbuh di era digital dan pascapandemi.

Perusahaan disarankan lebih aktif membimbing pekerja muda melalui mentoring, pelatihan komunikasi, dan pengembangan karier yang jelas. Pendekatan manajer sebagai coach dinilai lebih efektif dibanding pola kerja lama yang terlalu kaku.

Di tengah perubahan budaya kerja global, fenomena Gen Z dipecat massal sebenarnya menjadi tanda bahwa dunia profesional sedang mengalami transisi besar. Bukan hanya soal siapa yang salah atau benar, tetapi bagaimana generasi muda dan perusahaan bisa saling memahami ritme kerja di era baru yang terus berubah cepat.