Example 160x600
Example 160x600
BudayaLifestyle & Culture

Kesultanan Pontianak: Warisan Kerajaan Melayu yang Masih Bertahan hingga Kini

11
×

Kesultanan Pontianak: Warisan Kerajaan Melayu yang Masih Bertahan hingga Kini

Sebarkan artikel ini
Kesultanan Pontianak
Example 468x60

Khatulistiwahits, Pontianak – Di tepian pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, berdiri sebuah kerajaan Melayu Islam yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya Kota Pontianak. Kesultanan Pontianak atau Kesultanan Kadariah Pontianak merupakan salah satu kerajaan Islam berpengaruh di Kalimantan Barat yang memainkan peran penting dalam perkembangan perdagangan, penyebaran Islam, serta pembentukan identitas budaya Melayu di wilayah tersebut.

Awal Berdirinya Kesultanan Pontianak

Kesultanan Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771. Ia merupakan putra dari Habib Husin Al-Qadri, seorang ulama keturunan Arab yang datang ke Kalimantan Barat dan berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Mempawah.

Setelah wafatnya sang ayah, Syarif Abdurrahman melakukan perjalanan menyusuri sungai bersama pengikutnya untuk mencari wilayah baru yang dapat dijadikan pusat pemerintahan dan perdagangan. Rombongan tersebut akhirnya tiba di kawasan pertemuan Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak. Kawasan itu kemudian dibuka menjadi permukiman baru yang berkembang menjadi Pontianak.

Menurut tradisi yang berkembang di masyarakat, sebelum membuka wilayah tersebut, rombongan Syarif Abdurrahman konon diganggu makhluk halus yang dikenal sebagai pontianak atau kuntilanak. Untuk mengusir gangguan itu, mereka melepaskan tembakan meriam ke arah hutan. Setelah kawasan dianggap aman, pembangunan permukiman dimulai dan nama Pontianak kemudian melekat pada daerah tersebut.

Pada tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman resmi dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama. Penobatan tersebut ditandai dengan pembangunan pusat pemerintahan berupa Istana Kadariah dan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman yang hingga kini masih menjadi simbol sejarah Kota Pontianak.

Perkembangan Kesultanan Pontianak

Kesultanan Pontianak
Kesultanan Pontianak Masa lalu (Foto:Bagus Darmadi)
Kesultanan Pontianak
Istana Kadariah (foto: Bernard Sellato)
Kesultanan Pontianak
Istana Kadriah (Foto: Amazing Borneo)

Letak strategis di jalur sungai menjadikan Pontianak berkembang pesat sebagai pusat perdagangan. Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia menjadi jalur penting yang menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan kawasan pesisir dan perdagangan internasional. Kondisi ini membuat Kesultanan Pontianak tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi penting di Kalimantan Barat.

Selain perdagangan, kesultanan juga berperan besar dalam penyebaran agama Islam. Masjid Jami yang dibangun oleh Sultan Syarif Abdurrahman menjadi pusat dakwah, pendidikan agama, dan kegiatan sosial masyarakat Melayu Pontianak.

Pada akhir abad ke-18, hubungan Kesultanan Pontianak dengan Belanda mulai terjalin. Tahun 1778, pemerintah kolonial Belanda memasuki Pontianak dan menjalin kerja sama politik dengan kesultanan. Perjanjian yang dibuat pada tahun 1779 menjadikan Pontianak sebagai salah satu pusat administrasi Belanda di wilayah Kalimantan Barat. Meski demikian, kesultanan tetap mempertahankan kedudukannya sebagai penguasa lokal.

Memasuki abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Pontianak mengalami perkembangan dalam bidang pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur. Pada masa Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, modernisasi mulai diperkenalkan, termasuk dukungan terhadap sektor perkebunan dan investasi perdagangan.

Namun, masa kejayaan itu menghadapi tantangan berat ketika pendudukan Jepang berlangsung pada Perang Dunia II. Banyak tokoh kerajaan dan bangsawan Melayu Kalimantan Barat menjadi korban tragedi yang dikenal sebagai Peristiwa Mandor atau Pembantaian Pontianak. Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Kesultanan Pontianak.

Raja-Raja Kesultanan Pontianak

Berdasarkan catatan sejarah Kesultanan Pontianak, berikut para sultan yang pernah memimpin kerajaan tersebut hingga saat ini:

SultanMasa Pemerintahan
Syarif Abdurrahman Alkadrie1771–1808
Syarif Kasim Alkadrie1808–1819
Syarif Usman Alkadrie1819–1855
Syarif Hamid Alkadrie1855–1872
Syarif Yusuf Alkadrie1872–1895
Syarif Muhammad Alkadrie1895–1944
Syarif Thaha Alkadrie1944–1945
Sultan Hamid II1945–1978 (secara historis sebagai penguasa terakhir Kesultanan Pontianak)
Sultan Syarif Abubakar Alkadrie 
2004-2017
Sultan Syarif Mahmud2017-Hingga sekarang

Warisan Sejarah yang Masih Bertahan

Hingga kini, peninggalan Kesultanan Pontianak masih dapat ditemukan di berbagai sudut kota. Istana Kadariah tetap berdiri sebagai saksi perjalanan kerajaan, sementara Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman menjadi salah satu masjid tertua di Kalimantan Barat yang masih aktif digunakan. Kedua bangunan tersebut menjadi simbol lahirnya Pontianak sekaligus pusat peradaban Melayu Islam di tepian Sungai Kapuas.

Baca Juga: Menjaga Warisan Leluhur 2025: Generasi Muda Kalimantan Barat Bangkit Lestarikan Budaya Daerah

Lebih dari sekadar kerajaan, Kesultanan Pontianak merupakan fondasi sejarah yang membentuk identitas Kota Pontianak modern. Dari sebuah kawasan hutan di muara sungai, wilayah ini berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan yang terus memainkan peran penting di Kalimantan Barat hingga saat ini.

Sumber Referensi:
https://www.pontianak.go.id/tentang/sejarah
https://www.kompas.com/
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/