KhatulistiwaHits, Pontianak — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) makin hari makin mengesankan. ChatGPT dan berbagai AI generatif lain kini mampu menjawab pertanyaan, merangkum informasi, bahkan membantu menyusun argumen dengan cepat. Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan penting: apakah jawaban AI yang terlihat meyakinkan benar-benar bisa dipercaya sepenuhnya?
OpenAI memang mengklaim tingkat “halusinasi” atau kesalahan pada ChatGPT terus menurun. Tetapi, justru di titik itu muncul persoalan baru. Semakin AI terlihat akurat, semakin besar kecenderungan pengguna untuk langsung mempercayainya tanpa proses verifikasi.
Istilah halusinasi sendiri sering dianggap sebagai gangguan kecil dalam sistem AI. Padahal, pada model bahasa besar atau large language models (LLM), kesalahan semacam itu merupakan bagian dari cara kerja sistem. AI tidak benar-benar memahami informasi seperti manusia, melainkan memprediksi pola berdasarkan data yang pernah dipelajari.
Karena itu, pengurangan halusinasi bukan berarti AI menjadi sepenuhnya benar. Sistem hanya menjadi lebih baik dalam menghasilkan jawaban yang terdengar masuk akal.
AI Tidak Selalu Salah, Tapi Juga Tidak Selalu Benar
Fenomena ini berkaitan dengan automation bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih percaya pada sistem otomatis, apalagi jika performanya tampak konsisten. Tanpa disadari, banyak pengguna mulai menerima jawaban AI sebagai “kebenaran cepat” tanpa mengecek ulang sumber maupun validitas informasinya.
Dalam praktiknya, AI generatif kini semakin sering dipakai untuk menyusun argumen, mencari referensi, hingga membantu pengambilan keputusan sederhana. Situasi ini perlahan mengubah cara manusia memandang informasi. Dari yang awalnya memverifikasi, kini lebih sering langsung menerima.
Ketika sistem yang bekerja berdasarkan probabilitas dianggap sebagai sumber pengetahuan utama, risiko distorsi informasi pun ikut meningkat.
Baca juga: Idul Adha dan Pelajaran tentang Keikhlasan yang Relevan untuk Kehidupan Modern
Dunia Pendidikan Mulai Menghadapi Tantangan Baru
Di dunia pendidikan tinggi, perubahan ini mulai terasa nyata. AI tidak lagi hanya digunakan sebagai alat bantu, tetapi perlahan menjadi perantara utama dalam mencari pengetahuan.
Mahasiswa kini semakin akrab menggunakan AI untuk membuat rangkuman, mencari referensi, hingga menyusun ide tulisan. Di Program Studi Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak misalnya, mahasiswa mempelajari konsep dasar kecerdasan buatan, algoritma, dan sistem komputasi. Secara teori mereka memahami bahwa AI bekerja secara probabilistik.
Namun dalam praktik sehari-hari, masih banyak pengguna yang menjadikan AI sebagai sumber jawaban instan tanpa proses analisis lebih lanjut. Kondisi ini menunjukkan bahwa memahami teknologi belum tentu membuat seseorang memiliki sikap kritis terhadap teknologi itu sendiri.
Baca juga: Desain Mirip Apple Watch, 5 Smartwatch Ini Dijual Mulai Rp 1 Jutaan
Di sisi lain, budaya digital saat ini juga mendorong semuanya berjalan serba cepat. Efisiensi sering dianggap lebih penting dibanding ketepatan. Selama jawaban AI terlihat cukup benar dan membantu pekerjaan selesai lebih cepat, kesalahan kecil kerap dianggap wajar.
Padahal, jika terus dibiarkan, akumulasi informasi yang kurang akurat bisa memengaruhi cara masyarakat memahami pengetahuan dalam jangka panjang.
Literasi Digital Tidak Cukup Tanpa Sikap Kritis
Klaim peningkatan akurasi AI juga perlu dilihat secara kritis. Sebab, tanpa transparansi metode evaluasi dan pengujian independen, publik hanya menerima narasi dari perusahaan pengembang teknologi itu sendiri.
Dalam konteks Indonesia, tantangan ini menjadi lebih kompleks karena tingkat literasi digital masyarakat masih beragam. AI berpotensi menciptakan jarak baru antara pengguna yang memahami batasan teknologi dan mereka yang sekadar menggunakannya tanpa banyak pertanyaan.
Baca juga: Daftar 5 Kampus Populer di Pontianak Versi uniRank 2026, Siapa Teratas?
Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar apakah AI semakin canggih, melainkan apakah manusia tetap memiliki kebiasaan untuk berpikir kritis. Sebab ketika AI mulai diposisikan sebagai sumber kebenaran mutlak, kesalahan kecil yang dihasilkan sistem bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap sah dan benar.
Pada akhirnya, relasi manusia dengan AI seharusnya tetap berada dalam posisi yang seimbang. Teknologi bisa membantu mempercepat pekerjaan dan membuka akses informasi, tetapi keputusan untuk percaya tetap perlu disertai sikap kritis dan kesadaran untuk memverifikasi.
Oleh: Dedi Saputra, Dosen Program Studi Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI)















