Example 160x600
Example 160x600
Khatulistiwa InsightBudaya

Tradisi Unik Bulan Muharram di Tanah Borneo, Simbol Syukur, Hijrah dan Kebersamaan

110
×

Tradisi Unik Bulan Muharram di Tanah Borneo, Simbol Syukur, Hijrah dan Kebersamaan

Sebarkan artikel ini
Tradisi
Example 468x60

Khatulistiwahits, Pontianak – Bulan Muharram memiliki makna istimewa bagi umat Islam sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah. Di Kalimantan, datangnya Muharram tidak hanya disambut dengan ibadah dan doa, tetapi juga berbagai tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Menariknya, setiap daerah di Kalimantan memiliki cara tersendiri dalam memaknai bulan yang dimuliakan Allah SWT ini. Mulai dari tradisi memasak Bubur Asyura secara gotong royong, menyajikan kue lapis, pawai obor, ritual Berobat Kampung di Sambas, hingga kebiasaan unik membeli perabot rumah tangga pada 10 Muharram.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi bukti bahwa Islam di Kalimantan berkembang secara damai dan berakulturasi dengan budaya lokal tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasinya.

1. Bubur Asyura, Tradisi Muharram yang Paling Ikonik di Kalimantan

https://images.openai.com/static-rsc-4/6oJ27Yb0qbgAfM-DpmFbrzZAdvgaPKBCZ_muY7MFoMv_qUscX4b-tm6BPP33We44liIukNZE2dqe_E64CChMVBcZr9qSiKYwmVma7Ial1t8EGDWmekYJLgeCBZvxow0MP1JhGQ7cSVHNSARY8bAutfrW4dVUOl2tIuuKdF-K1ju_hKzjG3o0MS0UoTqyDpMX?purpose=fullsizeTradisiTradisi Muharram Bubur Ayam Asyura

Jika berbicara tentang Muharram di Kalimantan, Bubur Asyura hampir selalu menjadi tradisi yang paling dikenal.

Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memiliki kebiasaan memasak Bubur Asyura pada tanggal 10 Muharram secara bersama-sama. Bubur ini dibuat menggunakan beragam bahan seperti beras, sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, rempah-rempah, hingga daging. Dalam beberapa tradisi Banjar, jumlah bahan yang digunakan bahkan mencapai 41 jenis.

Proses memasaknya dilakukan secara gotong royong sejak pagi hingga sore hari. Setelah matang, bubur dibagikan kepada masyarakat sekitar, jamaah masjid, serta keluarga yang membutuhkan.

Bagi masyarakat Banjar, Bubur Asyura bukan sekadar makanan. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, sedekah, dan persatuan warga. Nilai gotong royong yang terkandung di dalamnya menjadikan Bubur Asyura sebagai salah satu warisan budaya Islam yang masih bertahan hingga kini.

2. Kue Lapis dan Aneka Kue Tradisional, Sajian Khas Muharram

Selain Bubur Asyura, masyarakat Melayu di beberapa wilayah Kalimantan juga memiliki tradisi menyajikan berbagai kue tradisional saat Muharram.

Salah satu yang paling populer adalah kue lapis, yang biasanya disajikan saat pengajian, doa bersama, maupun silaturahmi keluarga pada awal Tahun Baru Islam.

Baca Juga: Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: Momentum Memulai Hijrah dan Menata Hidup Menjadi Lebih Baik

Kue lapis memiliki filosofi yang menarik. Lapisan-lapisan pada kue melambangkan perjalanan hidup manusia yang penuh proses, kesabaran, dan tahapan menuju keberhasilan serta keberkahan.

Di sejumlah kampung Melayu, tradisi saling bertukar kue dan makanan juga masih dijalankan hingga sekarang. Selain mempererat hubungan kekeluargaan, kebiasaan ini menjadi simbol berbagi rezeki dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

3. Pawai Obor, Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Cahaya Kebaikan

TradisiPawai Obor sambut Tahun Baru Islam

Menjelang malam 1 Muharram, berbagai daerah di Kalimantan dipenuhi semarak pawai obor. Ratusan hingga ribuan warga berjalan bersama sambil membawa obor, melantunkan selawat, takbir, dan doa-doa kebaikan. Tradisi ini menjadi salah satu cara masyarakat menyambut datangnya Tahun Baru Islam.

Secara simbolis, cahaya obor melambangkan petunjuk Allah SWT yang menerangi kehidupan manusia. Pawai ini juga menjadi pengingat akan makna hijrah, yaitu berpindah dari kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik.

Di beberapa daerah seperti Kalimantan Utara, pawai obor berkembang menjadi Pawai Ta’aruf yang menampilkan miniatur masjid, kaligrafi Islam, replika Ka’bah, dan berbagai atraksi budaya Islami lainnya.

4. Tajhin Peddhis, Bubur Muharram Khas Komunitas Madura

Keberagaman budaya Kalimantan juga terlihat dari tradisi masyarakat Madura yang menetap di berbagai wilayah pulau ini. Mereka memiliki tradisi membuat Tajhin Peddhis atau bubur pedas yang dibagikan kepada masyarakat sepanjang bulan Muharram.

Bubur tersebut dibuat menggunakan tujuh bahan utama yang dipercaya melambangkan sisa bahan makanan yang digunakan Nabi Nuh AS setelah peristiwa banjir besar.

Tradisi ini bukan hanya menjadi kegiatan kuliner, tetapi juga sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan antaranggota masyarakat.

5. Berobat Kampung di Sambas, Tradisi Tolak Bala Masyarakat Melayu

https://images.openai.com/static-rsc-4/fikHlcnH4_fDAizInHO7Vv17i0vmUx3e2evo7nlIPL6LiO8HWQE0FaJquKI5eB1xQ8Y0zXKnmSsZSUAN87Zyc-v_0I2VlHf-GHg5klmDAdD3ymmHYkR4q-m--yJjtFX8nesv9Os2PLB6wFFhnejhwAvYwuVYYmXEbqWmtfFko7xid3obRxl2n3dbKuR4jMzE?purpose=fullsize

Di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, masyarakat Melayu pesisir memiliki tradisi unik bernama Berobat Kampung.

Tradisi ini berawal dari pengalaman masyarakat menghadapi wabah penyakit pada dekade 1950-an. Sebagai bentuk rasa syukur dan doa keselamatan, masyarakat kemudian melaksanakan ritual tahunan setiap 1 Muharram.

Prosesi Berobat Kampung biasanya meliputi:

  • Bepapas atau pembersihan simbolis.
  • Doa bersama.
  • Makan bersama masyarakat.
  • Antar Ajong, yaitu menghanyutkan miniatur perahu ke sungai atau laut.

Saat ini tradisi tersebut lebih dimaknai sebagai sarana memperkuat persatuan masyarakat dan memohon keselamatan kepada Allah SWT.

6. Tradisi Belanja Perabot pada 10 Muharram

Salah satu tradisi paling unik ditemukan pada masyarakat Bugis-Mandar yang tinggal di beberapa wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Utara.

Pada tanggal 10 Muharram, masyarakat memiliki kebiasaan membeli peralatan rumah tangga baru seperti:

  • Ember
  • Baskom
  • Gayung
  • Tempayan
  • Peralatan dapur

Tradisi ini dilandasi filosofi bahwa rezeki diibaratkan seperti air yang terus mengalir. Dengan membeli wadah baru, masyarakat berharap rezeki yang datang pada tahun baru Hijriah dapat tertampung dengan baik dan membawa keberkahan bagi keluarga.

Meski bersifat simbolik, tradisi ini masih bertahan hingga sekarang dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat pesisir Kalimantan.

Warisan Islam Nusantara yang Perlu Dilestarikan

Di tengah modernisasi dan perkembangan teknologi, tradisi Muharram di Kalimantan tetap bertahan karena diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi-tradisi tersebut bukan hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga cerminan nilai luhur Islam seperti kebersamaan, kepedulian sosial, rasa syukur, dan semangat hijrah. Melestarikan tradisi Muharram berarti menjaga warisan Islam Nusantara yang kaya akan kearifan lokal sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Kalimantan.

Muharram di Kalimantan bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Bulan ini menjadi momentum spiritual sekaligus budaya yang mempertemukan nilai agama, tradisi, dan kebersamaan masyarakat.

Dari Bubur Asyura yang dimasak secara gotong royong, kue lapis yang sarat filosofi, pawai obor yang meriah, Berobat Kampung di Sambas, hingga tradisi belanja perabot masyarakat Bugis-Mandar, semuanya menggambarkan kekayaan budaya Islam yang tumbuh dan berkembang di Bumi Kalimantan.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa semangat hijrah tidak hanya diwujudkan dalam ibadah, tetapi juga dalam kebersamaan, berbagi, dan menjaga warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat selama berabad-abad.