Khatulistiwahits – Bagi umat Islam, hari Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan. Hari ini memiliki kedudukan istimewa yang tidak dimiliki hari-hari lainnya. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan, mulai dari pelaksanaan salat Jumat, waktu mustajab untuk berdoa, hingga berbagai amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Namun, pernahkah kita bertanya mengapa hari tersebut dinamakan Jumat? Apa makna di balik penamaannya, dan mengapa doa pada hari itu memiliki keistimewaan tersendiri?
Asal Usul Nama Hari Jumat
Menurut penjelasan para ulama yang dikutip oleh MUI Digital, kata Jumat berasal dari bahasa Arab al-jumu’ah yang berarti berkumpul atau perhimpunan.
Pada zaman Jahiliyah, hari Jumat disebut dengan yaum al-arubah. Ka’ab bin Lu’ay menjadi orang pertama yang menyebutnya dengan hari Jumuah.
Hal ini disebabkan ketika penduduk Madinah berkumpul, kemudian seseorang dari kaum Anshar bertanya terkait umat Yahudi dan Nasrani yang memiliki hari-hari tertentu untuk berkumpul. Umat Yahudi memiliki waktu berkumpul di hari Sabtu. Sedangkan umat Nasrani memiliki waktu berkumpul di hari Minggu.
Oleh karena itu, mengutip pendapat dari As Shabuni menjelaskan dalam Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni bahwa umat Islam menjadikan hari Arubah sebagai hari yang dimanfaatkan untuk berkumpul dan beribadah kepada Allah, mensyukuri segenap nikmat-Nya, serta memperbanyak berzikir mengingat-Nya.
Dalam pertemuan itu berlangsung di rumah As’ad Ibn Zurah. Sejak saat itulah Arubah dinamakan Jumat , yang secara harfiah memiliki makna ‘hari berkumpul’. Firman Allah dalam surat Al Jumuah ayat 9:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Hari ini dinamakan demikian karena umat Islam berkumpul untuk melaksanakan salat Jumat secara berjamaah. Tradisi berkumpul tersebut menjadi simbol persatuan, ukhuwah, dan kebersamaan umat Islam dalam beribadah kepada Allah SWT.
Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa sebelum Islam datang, hari tersebut memiliki nama lain di kalangan masyarakat Arab. Setelah Islam berkembang, nama al-Jumu’ah digunakan karena mencerminkan aktivitas utama yang dilakukan umat Islam pada hari tersebut, yaitu berkumpul untuk melaksanakan ibadah bersama.
Selain itu, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada hari Jumat Allah SWT menyempurnakan penciptaan Nabi Adam AS, sehingga hari tersebut memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Hari Terbaik dalam Islam
Rasulullah SAW menyebut Jumat sebagai hari terbaik di antara seluruh hari dalam satu pekan.
Pada hari itulah Nabi Adam AS diciptakan, dimasukkan ke surga, diturunkan ke bumi, dan pada hari Jumat pula kelak akan terjadi kiamat. Karena itu, Jumat sering disebut sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari.
Keistimewaan tersebut menjadikan Jumat sebagai momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, dan meningkatkan kualitas spiritual. Berdasarkan penjelasan ulama yang dikutip MUI, berbagai amalan seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak salawat, bersedekah, dan berdoa sangat dianjurkan pada hari ini.
Ada Waktu Mustajab untuk Berdoa
Salah satu keutamaan terbesar hari Jumat adalah adanya waktu mustajab, yaitu waktu ketika doa seorang Muslim memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT.
Dalam sejumlah hadis sahih dijelaskan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang apabila seorang Muslim berdoa dan memohon kebaikan kepada Allah SWT, maka permohonannya tidak akan ditolak.
Hari Jumat juga merupakan hari berkumpulnya kaum muslimin di masjid untuk mengikuti salat yang sebelumnya terlebih dahulu mendengarkan dua khutbah Jumat. Rasulullah SAW mengabarkan dalam hadits banyak keistimewaan pada waktu tersebut, di antaranya adalah keutamaan berdoa pada Jumat. Sebagaimana sabdanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ membicarakan perihal hari Jumat. Beliau mengatakan, “Pada hari Jumat itu ada satu saat, tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan sholat lalu dia berdoa tepat pada saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkan doanya tersebut.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya saat tersebut.” (HR Bukhari, no 936).
Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu yang dimaksud. Namun dua pendapat yang paling kuat adalah:
- Waktu antara imam duduk di mimbar hingga selesai salat Jumat.
- Waktu setelah salat Asar hingga menjelang terbenam matahari.
Karena tidak diketahui secara pasti kapan waktu tersebut terjadi, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa sepanjang hari Jumat agar tidak melewatkan saat yang penuh keberkahan itu.
Mengapa Doa Jumat Begitu Istimewa?
Hari Jumat memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena menjadi hari berkumpulnya umat Islam untuk beribadah secara kolektif. Momentum ini menghadirkan suasana keimanan yang lebih kuat dibandingkan hari-hari biasa.
Dalam riwayat lain disebutkan pula:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda, “Pada hari Jumat ada suatu waktu yang bila seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, Allah pasti memberinya.” (HR Nasa’i, no 1432)
Ketika seorang Muslim memanfaatkan hari Jumat dengan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersalawat, dan berdoa, maka ia sedang menggabungkan berbagai bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. Oleh sebab itu, hari Jumat menjadi kesempatan emas untuk memohon ampunan, keberkahan rezeki, kesehatan, keselamatan keluarga, dan berbagai hajat lainnya.
Amalan yang Dianjurkan pada Hari Jumat
Selain memperbanyak doa, beberapa amalan yang sangat dianjurkan pada hari Jumat antara lain:
- Membaca Surah Al-Kahfi.
- Memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad SAW.
- Mandi Jumat sebelum berangkat ke masjid.
- Datang lebih awal untuk salat Jumat.
- Memperbanyak istigfar dan zikir.
- Bersedekah kepada yang membutuhkan.
- Memperbanyak doa untuk diri sendiri, keluarga, dan umat Islam.
Amalan-amalan tersebut dapat menjadi sarana untuk meraih keberkahan yang dijanjikan pada hari yang mulia ini.
Momentum Memperbaiki Diri Setiap Pekan
Jumat bukan hanya hari libur atau hari pelaksanaan salat berjamaah. Ia adalah pengingat mingguan bagi setiap Muslim untuk mengevaluasi diri, memperbanyak amal saleh, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Baca Juga: Mempertahankan Semangat Ibadah Qurban dan Haji Pasca Idul Adha
Di tengah kesibukan dunia modern, hari Jumat menjadi kesempatan berharga untuk berhenti sejenak, memperbanyak doa, dan memohon petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, ketika Jumat kembali datang setiap pekan, jangan hanya menyambutnya sebagai pergantian hari. Sambutlah sebagai momentum keberkahan, pengampunan, dan kesempatan baru untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.









