Khatulistiwahits — Menjelang perayaan Hari Raya Waisak 2026, puluhan biksu Thudong kembali menarik perhatian masyarakat Indonesia. Para bhante melakukan perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, untuk mengikuti rangkaian peringatan Waisak nasional. Tradisi ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi memiliki makna spiritual dan filosofi mendalam dalam ajaran Buddha.
Perjalanan para biksu tersebut viral di media sosial karena dilakukan dengan penuh kesederhanaan dan disiplin. Mengenakan jubah khas berwarna cokelat dan oranye, mereka berjalan ratusan kilometer melintasi berbagai daerah sambil membawa perlengkapan seperlunya. Banyak warga yang antusias menyambut dan memberikan dukungan di sepanjang perjalanan.
Apa Itu Thudong?
Dalam tradisi Buddhisme Theravada, Thudong merupakan praktik spiritual para bhikkhu atau biksu yang dilakukan dengan cara hidup sederhana dan berpindah-pindah sambil berjalan kaki. Kata “Thudong” berasal dari bahasa Pali “dhutanga” yang berarti latihan pertapaan atau praktik untuk melatih pengendalian diri.
Tradisi ini identik dengan kehidupan asketis:
- berjalan kaki jarak jauh,
- tidur sederhana,
- makan secukupnya,
- serta melepaskan kenyamanan duniawi.
Bagi para bhante, perjalanan Thudong bukan tentang tujuan akhir semata, tetapi proses melatih kesabaran, kesadaran, ketekunan, dan kerendahan hati.
Perjalanan Spiritual dari Bali ke Borobudur
Perjalanan Thudong menuju Borobudur dilakukan sebagai bagian dari rangkaian menyambut Waisak 2569 BE/2026. Para biksu berjalan kaki melewati sejumlah kota dan provinsi sebelum akhirnya tiba di Magelang.
Borobudur dipilih karena menjadi salah satu pusat perayaan Waisak terbesar di Indonesia sekaligus simbol penting peradaban Buddha dunia. Candi peninggalan Dinasti Syailendra tersebut menjadi tempat refleksi spiritual umat Buddha dari berbagai negara setiap tahunnya.
Perjalanan panjang itu juga menjadi simbol perjalanan hidup manusia dalam mencari pencerahan batin. Setiap langkah dianggap sebagai latihan mindfulness atau kesadaran penuh terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Makna Filosofis Tradisi Thudong
Fenomena Thudong bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga menyimpan nilai filosofi yang mendalam. Dalam ajaran Buddha, perjalanan kaki melambangkan pelepasan ego dan keterikatan terhadap kenyamanan duniawi.
GoodStats menjelaskan bahwa praktik ini mengajarkan:
- kesederhanaan hidup,
- pengendalian diri,
- empati terhadap sesama,
- serta kedekatan manusia dengan alam dan kehidupan sosial.
Para biksu juga tidak meminta kemewahan selama perjalanan. Mereka menerima makanan atau bantuan dari masyarakat sebagai bentuk hubungan saling berbagi dan welas asih antarumat manusia.
Dalam filosofi Buddhisme, berjalan kaki jarak jauh juga dianggap sebagai cara melatih ketahanan mental dan spiritual. Semakin berat perjalanan yang dilalui, semakin besar pula latihan batin yang dijalani seseorang.
Warga Antusias Menyambut Para Bhante
Kehadiran para biksu Thudong di berbagai daerah sering disambut hangat masyarakat. Banyak warga memberikan air minum, makanan, hingga tempat beristirahat bagi para bhante.
Tidak sedikit pula masyarakat non-Buddha yang ikut membantu sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai perdamaian dan spiritualitas yang dibawa para biksu. Momen ini menjadi simbol toleransi antarumat beragama yang kuat di Indonesia.
Video perjalanan mereka pun ramai dibagikan di TikTok, Instagram, dan YouTube. Banyak netizen mengaku kagum terhadap ketekunan dan kedisiplinan para biksu yang rela berjalan ratusan kilometer demi menjalankan praktik spiritual.
Jadwal Waisak 2026 di Borobudur
Perayaan Hari Raya Waisak 2026 dipusatkan di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Sejumlah rangkaian kegiatan keagamaan dan ritual akan digelar menjelang detik-detik Waisak, termasuk:
- kirab Waisak,
- pelepasan lampion,
- meditasi bersama,
- dan doa lintas umat Buddha.
Tradisi Thudong menjadi salah satu bagian paling dinanti karena dianggap menghadirkan pesan damai, kesederhanaan, dan refleksi spiritual di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Baca Juga: 10 Kebudayaan Indonesia yang Terus Bertahan dan Semakin Populer di Era Digital
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan gaya hidup instan, perjalanan para biksu Thudong seolah menjadi pengingat bahwa ketenangan batin tidak selalu ditemukan dalam kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan, kesabaran, dan perjalanan memahami diri sendiri.









