KhatulistiwaHits — Di era digital seperti sekarang, kemampuan coding memang penting. Tapi kenyataannya, perusahaan tidak hanya mencari talenta yang jago ngoding saja. Industri saat ini lebih membutuhkan orang yang paham teknologi sekaligus mengerti bagaimana teknologi itu bisa dipakai untuk mengembangkan bisnis. Kombinasi antara coding, teknologi, dan pemahaman bisnis justru menjadi skill yang semakin dicari di dunia kerja modern.
Transformasi Digital dan Kebutuhan Talenta Lintas Bidang
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara perusahaan bekerja. Hampir semua sektor kini memanfaatkan teknologi, mulai dari pemasaran, transaksi keuangan, hingga pengambilan keputusan berbasis data. Karena itu, perusahaan membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu membaca peluang bisnis dan memahami kebutuhan pasar.
Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, kemampuan seperti data analysis, teknologi finansial (fintech), digital business, hingga manajemen keuangan digital menjadi semakin penting. Talenta dengan kemampuan lintas bidang ini dinilai lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dibandingkan mereka yang hanya memiliki satu keahlian saja.
Potensi Besar Ekonomi Digital Indonesia
Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam ekonomi digital. Laporan Google, Temasek, dan Bain memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia dapat mencapai lebih dari USD 100 miliar pada pertengahan dekade ini. Pertumbuhan tersebut membuka banyak peluang karier baru di bidang teknologi dan bisnis digital.
Generasi Z sebenarnya memiliki keunggulan tersendiri dalam menghadapi perubahan ini. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan smartphone, mereka sudah sangat akrab dengan dunia digital. Bahkan berbagai survei menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen Gen Z menggunakan dompet digital atau e-wallet untuk transaksi sehari-hari, mulai dari belanja online, transportasi, hingga hiburan digital.
Melihat kebutuhan industri yang terus berkembang, beberapa kampus mulai menghadirkan program studi yang menggabungkan teknologi, bisnis, dan keuangan digital dalam satu kurikulum terpadu. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan solusi bisnis di dunia nyata.
Misalnya dengan mempelajari sistem pembayaran digital, analisis data keuangan, hingga pengembangan platform bisnis berbasis teknologi. Pendekatan seperti ini membuat mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja karena mereka sudah terbiasa dengan studi kasus industri, proyek digital, serta praktik teknologi yang digunakan perusahaan saat ini.
Baca juga: Siap-Siap! Tahun 2026 Profesi Digital Diprediksi Akan Menguasai Dunia Kerja
Pengalaman Industri sebagai Faktor Penentu
Selain kurikulum yang relevan, pengalaman industri juga menjadi faktor penting. Banyak perusahaan kini lebih tertarik pada lulusan yang sudah memiliki pengalaman kerja sebelum lulus.
Salah satu contoh pendekatan tersebut diterapkan oleh Cyber University yang dikenal sebagai The First Fintech University in Indonesia melalui Company Learning Program (CLP) 3+1. Program ini memungkinkan mahasiswa menjalani 3 tahun kuliah dan 1 tahun magang di perusahaan, sehingga mereka bisa memahami langsung bagaimana teori yang dipelajari di kampus diterapkan di dunia kerja.
Pengalaman magang ini juga memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun jaringan profesional serta mengasah keterampilan yang dibutuhkan industri.
Di era ekonomi digital, dunia kerja tidak lagi hanya mencari lulusan yang pintar secara akademik. Perusahaan lebih membutuhkan talenta yang siap bekerja, mampu memahami teknologi, sekaligus memiliki perspektif bisnis. Dengan bekal kemampuan teknologi, pemahaman bisnis, dan pengalaman industri, generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi talenta digital yang siap bersaing di masa depan.(Tiara Sari)














