Example 160x600
Example 160x600
Pendidikan

Sarjana Banyak yang Nganggur? Stop Telan Data Mentah-mentah

×

Sarjana Banyak yang Nganggur? Stop Telan Data Mentah-mentah

Sebarkan artikel ini
nganggur
Example 468x60

KhatulistiwaHits, Jakarta — Belakangan ini, linimasa media sosial lagi-lagi rame sama satu topik yang itu-itu lagi “sarjana banyak yang nganggur”. Potongan data disebar cepat, caption-nya provokatif, lalu ujung-ujungnya ditarik ke satu kesimpulan instan kuliah dianggap nggak relevan, bahkan ada yang nyeletuk “kuliah itu scam”. Padahal, kalau data cuma ditelan mentah-mentah tanpa konteks, kesimpulan seperti ini justru bisa menyesatkan dan bikin salah kaprah.

Kesimpulan Instan yang Menyesatkan

Faktanya, angka pengangguran lulusan sarjana tidak bisa dibaca secara hitam-putih. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025 tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan universitas itu sekitar 5,25 persen, yang artinya masih di bawah beberapa jenjang lain dan bagian dari gambaran besar pasar kerja yang kompleks.

Jumlah total pengangguran di Indonesia pada periode itu mencapai 7,28 juta orang, tetapi hanya sebagian kecil yang merupakan lulusan perguruan tinggi, sementara sebagian besar justru berasal dari lulusan SMA dan SMK.

Itu artinya, saat orang bilang “sarjana banyak yang nganggur”, sering kali yang dibahas cuma angka mentah tanpa konteks latar belakang pendidikan, alasan nganggurnya, atau bahkan pilihan hidup para graduate itu sendiri. Ada yang memang baru lulus dan sedang cari kerja, ada juga yang milih lanjut sekolah, magang, atau membangun usaha dulu sebelum terjun ke pasar kerja.

Baca juga: Kuliah Dibilang Scam, Tapi Kenapa Masih Banyak yang Daftar?

Masalah lain yang kerap luput adalah ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri. Bukan berarti sarjananya kebanyakan, tapi ada gap antara apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan dunia kerja. Ketika lulusan tidak dibekali skill relevan, adaptasi jadi lambat dan peluang kerja makin sempit.

Gelar Saja Tak Cukup di Pasar Kerja Hari Ini

Di sisi lain, dunia kerja juga berubah cepat. Perusahaan kini tidak hanya melihat gelar, tapi juga portofolio, pengalaman, kemampuan berpikir kritis, dan mental belajar. Sarjana yang aktif, punya skill tambahan, dan mau terus berkembang tetap punya peluang besar. Sebaliknya, lulusan yang pasif memang rentan tersingkir.

Karena itu, menyimpulkan “sarjana banyak yang nganggur” sebagai bukti kuliah gagal adalah kesimpulan yang terlalu dangkal. Yang perlu dievaluasi bukan hanya jumlah lulusan, tapi kualitas proses pendidikannya. Kampus punya peran besar untuk memastikan mahasiswa tidak sekadar lulus, tapi siap menghadapi realita setelah wisuda.

Baca juga: ICONNET Terapkan Diskon 75 Persen bagi Pelanggan Terdampak Bencana

UBSI Tawarkan Model Kuliah yang Lebih Relevan

Di tengah derasnya narasi pesimis soal pendidikan tinggi, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) hadir membawa pendekatan berbeda. UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, menekankan pembelajaran berbasis praktik, teknologi, dan kebutuhan industri, sekaligus membangun mindset wirausaha sejak dini.

Dengan status akreditas intitusi yang sudah Unggul, UBSI membuktikan bahwa kualitas akademik bisa sejalan dengan kesiapan kerja. Mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga skill nyata dan pengalaman yang relevan. Jadi, sebelum ikut-ikutan percaya bahwa “sarjana banyak yang nganggur”, mungkin yang perlu dilakukan adalah berhenti telan data mentah-mentah dan mulai melihat konteksnya secara utuh.

Baca juga: SITUBA, Teman Digital Baru bagi Pasien TBC di Surakarta

Jadi, sebelum buru-buru menyimpulkan bahwa “sarjana banyak yang nganggur” lalu menganggap kuliah nggak ada gunanya, ada baiknya mulai lebih kritis membaca data dan lebih cermat memilih arah. Pendidikan tetap relevan kalau dijalani di kampus yang tepat. Buat yang pengin kuliah tapi tetap realistis soal masa depan kerja dan peluang usaha, UBSI bisa jadi pilihan buat mulai bangun skill, pengalaman, dan arah karier sejak sekarang bukan nunggu setelah wisuda.(Siti Hafizah)