Khatulistiwa,–makanan khas Kalimantan barat,Provinsi Kalimantan Barat menyimpan kekayaan kuliner yang sering kali hanya dikaitkan dengan cita rasa, namun jarang mendapat sorotan dari sisi “sehat dan bergizi”. Padahal banyak hidangannya mengandung bahan lokal, sayur-mayur, atau pengolahan tradisional yang ramah untuk gaya hidup saat ini. Dari sekian ragam, berikut lima menu yang layak disebut sebagai pilihan sehat khas Kalimantan Barat — bukan sekadar lezat, tetapi juga punya nilai gizi dan cerita budaya yang menarik.
Gak Cuma Enak, 5 Makanan Khas Kalimantan Barat Ini Ternyata Super Sehat!
Bubur Pedas Sambas

Kalau mendengar kata “bubur”, mungkin kamu langsung terbayang sajian lembut dengan kuah santan atau topping ayam suwir. Tapi di Kalimantan Barat, ada satu versi bubur yang sangat berbeda dan istimewa, yaitu Bubur Pedas Sambas — atau dalam logat lokal disebut Bubbor Peda. Meski namanya terdengar “pedas”, jangan terkecoh, karena cita rasa utamanya justru gurih, segar, dan kaya rempah.
Bubur Pedas berasal dari Kabupaten Sambas, daerah perbatasan yang terkenal akan kuliner tradisionalnya. Makanan ini dibuat dari campuran beras yang disangrai lalu ditumbuk halus, kemudian dimasak bersama aneka sayuran dan rempah. Proses sangrai inilah yang membuat aroma Bubur Pedas begitu harum dan khas, berbeda dari bubur pada umumnya.
Bahan-bahan yang digunakan sangat beragam dan menyehatkan. Dalam satu panci Bubur Pedas, kamu bisa menemukan kangkung, daun kesum, daun pakis, daun kunyit, daun jeruk, wortel, ubi, serta tauge. Selain itu, ditambahkan juga ikan teri goreng, kacang tanah sangrai, dan bawang goreng sebagai topping — menciptakan kombinasi rasa gurih, pedas ringan, dan sedikit smokey.
Dari segi gizi, Bubur Pedas adalah perpaduan sempurna antara karbohidrat, serat, vitamin, dan protein. Beras sangrai memberi energi, sayur-mayur memperkaya serat dan antioksidan, sementara ikan teri dan kacang tanah menambah protein dan lemak sehat. Tak heran, banyak orang menyebut Bubur Pedas sebagai “superfood tradisional” dari Kalimantan Barat.
Menariknya, Bubur Pedas biasanya tidak dimasak dengan santan, sehingga lebih ringan di perut dan cocok untuk yang sedang menghindari makanan berlemak. Rasanya gurih alami berasal dari rempah dan sayur segar, bukan dari minyak atau santan berlebih.
Dalam tradisi masyarakat Sambas dan sekitarnya, Bubur Pedas sering dimasak saat acara gotong royong, bulan Ramadan, atau perayaan adat. Memasaknya pun dilakukan bersama-sama dalam panci besar, dan dinikmati ramai-ramai — menjadikannya simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga.
Sekarang, Bubur Pedas tidak hanya bisa ditemukan di Sambas saja. Di Pontianak, banyak warung dan kafe yang menjual versi modern dari hidangan ini, lengkap dengan tampilan estetik dan porsi sehat. Beberapa bahkan menambahkan topping seperti telur rebus, ayam suwir, atau jamur tiram untuk variasi rasa, namun tetap mempertahankan resep dasarnya yang kaya sayur.
Bagi kamu yang sedang mencari makanan tradisional tapi tetap sehat, Bubur Pedas adalah pilihan sempurna. Kaya serat, rendah lemak, dan dibuat dari bahan alami — cocok untuk sarapan, makan siang, atau bahkan menu diet.
Selain itu, Bubur Pedas juga bisa dibuat di rumah tanpa bahan yang sulit. Cukup sangrai beras hingga kecokelatan, tumbuk kasar, lalu rebus bersama sayuran dan bumbu halus seperti kunyit, serai, bawang merah, dan cabai. Tambahkan sedikit garam dan kaldu, lalu sajikan dengan taburan ikan teri dan kacang goreng — hasilnya luar biasa nikmat!
Baca Juga:Cencalok, Fermentasi Udang Kuliner Khas Kalimantan Barat
Kerupuk Basah

Kalau biasanya kerupuk identik dengan camilan renyah yang digoreng kering, maka Kerupuk Basah justru tampil beda. Makanan khas Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ini punya tekstur kenyal seperti pempek, tapi rasanya gurih khas ikan sungai. Uniknya lagi, kerupuk ini disebut “basah” karena tidak digoreng atau dikeringkan, melainkan dikukus — sehingga lebih sehat dan kaya nutrisi.
Kerupuk Basah terbuat dari daging ikan sungai segar seperti ikan toman, belida, atau tengadak, yang dihaluskan lalu dicampur dengan tepung tapioka dan bumbu sederhana seperti bawang putih, garam, dan lada. Adonan ini kemudian dibentuk memanjang seperti sosis besar dan dikukus hingga matang. Setelah matang, biasanya dipotong-potong tipis dan disajikan dengan sambal kacang pedas manis yang menjadi ciri khasnya.
Karena berbahan dasar ikan, Kerupuk Basah kaya akan protein dan omega-3, yang baik untuk kesehatan otak, jantung, dan metabolisme tubuh. Berbeda dengan kerupuk biasa yang banyak mengandung tepung dan minyak, Kerupuk Basah lebih alami dan rendah lemak. Itulah mengapa makanan ini sering disebut sebagai “kerupuk sehat” dari Kalimantan Barat.
Dari segi rasa, Kerupuk Basah punya cita rasa yang ringan tapi gurih alami. Teksturnya kenyal dan lembut, sangat cocok dimakan hangat-hangat. Banyak orang mengatakan bahwa sensasi makan Kerupuk Basah mirip dengan menikmati pempek Palembang, tapi dengan aroma ikan sungai yang lebih kuat dan khas.
Biasanya, masyarakat Kapuas Hulu menikmati Kerupuk Basah sebagai camilan sore atau makanan pendamping nasi. Bahkan dalam acara adat dan perayaan daerah, hidangan ini hampir selalu hadir sebagai simbol kebersamaan. Di beberapa daerah seperti Putussibau, Kerupuk Basah menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang datang.
Seiring waktu, Kerupuk Basah juga mengalami inovasi modern. Beberapa penjual kini menawarkan varian rasa baru seperti ikan gabus, udang, bahkan cumi. Ada juga versi “kerupuk basah bakar” yang dibakar sebentar di atas bara api setelah dikukus, menghasilkan aroma smokey yang menggugah selera tanpa menambah banyak minyak.
Selain lezat dan sehat, Kerupuk Basah juga mencerminkan gaya hidup lokal yang sederhana tapi sadar gizi. Dengan memanfaatkan hasil sungai — sumber protein alami yang melimpah di Kalimantan Barat — masyarakat setempat berhasil menciptakan makanan yang bukan hanya enak, tapi juga menyehatkan dan ramah lingkungan.
Pengkang

Makanan tradisional ini sering disebut “lempernya orang Kalbar” karena bentuknya mirip lemper, tapi punya cita rasa dan aroma yang khas banget. Bukan cuma lezat, Pengkang juga termasuk camilan yang sehat karena bahan dan cara masaknya yang alami.
Pengkang terbuat dari beras ketan putih yang dikukus hingga pulen, lalu diisi dengan ebi (udang kering) yang telah disangrai dan dibumbui dengan rempah-rempah khas seperti bawang putih, bawang merah, dan sedikit cabai. Setelah itu, adonan ketan dan ebi dibungkus dengan daun pisang, kemudian dijepit menggunakan bambu dan dibakar di atas bara api hingga mengeluarkan aroma wangi yang menggugah selera.
Proses pembakaran inilah yang menjadi ciri khas utama Pengkang. Daun pisang yang terbakar di bagian luar menebarkan aroma asap yang khas, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan gurih. Tekstur ketan yang kenyal berpadu sempurna dengan rasa ebi yang asin gurih — menciptakan harmoni rasa yang sederhana namun memikat.
Selain cita rasanya yang unik, Pengkang juga relatif sehat. Dibandingkan makanan ringan yang digoreng dengan banyak minyak, Pengkang diolah dengan cara dibakar, sehingga lebih rendah lemak. Ketan sebagai bahan utama mengandung karbohidrat kompleks yang memberi energi bertahan lama, sedangkan ebi adalah sumber protein laut yang baik.
Biasanya, Pengkang disajikan bersama sambal kepah — sambal pedas dari kerang yang jadi pasangan klasiknya. Namun bagi yang ingin versi lebih ringan, kamu bisa menikmati Pengkang tanpa sambal tambahan, cukup dengan teh hangat atau kopi hitam khas Kalimantan Barat.
Di Pontianak, kamu bisa menemukan Pengkang paling terkenal di daerah Peniti, Kabupaten Mempawah. Banyak penjual menjajakan Pengkang di pinggir jalan dengan cara tradisional — asap tipis dari bara arang dan aroma daun pisang terbakar menjadi tanda khas bahwa Pengkang sedang siap disajikan. Suasana itu sendiri sudah cukup membuat siapa pun tergoda untuk berhenti dan mencicipi.
Kini, seiring berkembangnya tren kuliner sehat dan lokal, Pengkang mulai naik pamor lagi. Beberapa kafe dan UMKM di Kalimantan Barat mencoba menghadirkan versi modern, seperti Pengkang isi ikan asap, jamur, bahkan ayam suwir pedas, namun tetap mempertahankan cara masak bakar yang jadi ciri khasnya.
Lebih dari sekadar makanan, Pengkang adalah simbol kearifan lokal — bagaimana masyarakat Kalimantan Barat memanfaatkan bahan sederhana dari alam untuk menciptakan cita rasa yang luar biasa. Dalam satu bungkus Pengkang, tersimpan cerita tentang kebersamaan, kreativitas, dan cinta terhadap tradisi.
Mie Sagu khas Pontianak dan sekitarnya
alau kamu berkunjung ke Pontianak, belum lengkap rasanya kalau belum mencicipi Mie Sagu, salah satu kuliner khas yang kini makin populer di kalangan pecinta makanan sehat. Berbeda dari mie pada umumnya yang berbahan dasar terigu, mie ini dibuat dari tepung sagu, bahan alami yang berasal dari tanaman rumbia atau pohon sagu yang banyak tumbuh di wilayah Kalimantan dan Papua.
Teksturnya kenyal namun lembut, memberikan sensasi unik di mulut. Warna mie sagu biasanya agak transparan dan sedikit keputihan, menandakan proses pembuatan tradisional yang masih dipertahankan oleh masyarakat lokal. Karena terbuat dari sagu, mie ini bebas gluten, sehingga aman dikonsumsi bagi mereka yang sedang menjalani diet tertentu atau sensitif terhadap tepung terigu.
Dari sisi penyajian, mie sagu biasanya dihidangkan dalam dua versi: mie sagu goreng dan mie sagu kuah. Versi goreng umumnya menggunakan tambahan tauge, daun kucai, ebi (udang kering), dan sedikit potongan daging ayam atau ikan asin. Sedangkan versi kuah hadir dengan kaldu ringan, memberikan cita rasa gurih yang tidak berlebihan. Keduanya sering disajikan dengan taburan bawang goreng dan sambal khas Pontianak yang pedas segar.
Keunikan mie sagu tidak hanya terletak pada bahan dasarnya, tapi juga nilai gizinya. Sagu dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks yang mudah dicerna dan rendah lemak. Kandungan seratnya juga membantu menjaga pencernaan tetap sehat dan memberi rasa kenyang lebih lama. Hal ini membuat mie sagu menjadi alternatif sempurna bagi mereka yang ingin makan enak tanpa rasa bersalah.
Menariknya, mie sagu juga bisa dikreasikan dalam berbagai gaya modern. Banyak kafe dan restoran di Pontianak kini menyajikannya dengan tambahan sayur organik, telur rebus, atau topping seafood segar, menjadikannya menu fusion antara tradisi dan gaya hidup sehat masa kini.
Selain rasanya yang lezat, mie sagu juga punya makna budaya. Ia mencerminkan kemandirian pangan masyarakat Kalimantan Barat yang memanfaatkan hasil alam lokal tanpa bergantung pada bahan impor seperti terigu. Dalam setiap suapan mie sagu, tersimpan filosofi sederhana: hidup sehat itu bisa dimulai dari bahan lokal dan cara masak tradisional.
Chai Kue (atau Choipan)

camilan tradisional yang populer di Pontianak dan Singkawang, dengan kulit dari tepung beras/maizena atau adonan tipis, serta isian sayuran seperti bengkuang, talas, kucai.Meskipun sering dianggap sebagai jajanan, versi kukus Chai Kue bisa menjadi pilihan yang lebih sehat daripada gorengan berat, terutama jika dimakan tanpa banyak sambal / gula tambahan.
Dari kelima menu ini, satu benang merah yang muncul adalah penggunaan bahan-lokal (ikan sungai, ketan, sagu, sayuran khas) dan metode pengolahan yang cukup ringan (misalnya kukus, bakar, banyak sayuran). Ini menjadikannya sangat relevan untuk tren makan sehat dengan sentuhan tradisi — bukan hanya konsumsi cepat atau instan.
Namun tentu ada catatan penting: “sehat” di sini bersifat relatif. Sebagai contoh, meskipun Kerupuk Basah berbahan ikan, jika digoreng berat atau disajikan dengan banyak sambal kacang gula tinggi, maka kalorinya bisa meningkat secara signifikan. Maka bagi pengunjung atau konsumen yang peduli kesehatan, disarankan memilih porsi moderat, menjaga minyak dan sambal, serta menambahkan sayuran sebagai pelengkap.
Bagi wisatawan atau penikmat kuliner yang ingin mencicipi menu-menu ini di Kalimantan Barat, ada beberapa tips praktis: datanglah ke warung lokal pagi hari untuk Bubur Pedas agar tetap hangat; pilih versi kukus atau bakar untuk Pengkang dan Chai Kue agar lebih ringan; untuk mie sagu, pilih kuah bening atau sedikit minyak; dan tanyakan opsi sambal atau topping agar bisa dikontrol tingkat kepedasannya atau lemak tambahan.
Kesimpulannya, kelima menu berasal dari akar budaya Kalimantan Barat namun bisa “diangkat” ke gaya hidup modern yang lebih sehat tanpa kehilangan cita rasa atau identitasnya. Jadi, ketika Anda berlibur ke daerah “Bumi Khatulistiwa” ini atau sekadar ingin eksplor kuliner sehat di rumah, pertimbangkan salah satu dari lima pilihan di atas: Bubur Pedas, Kerupuk Basah, Pengkang, Mie Sagu, dan Chai Kue — tradisi yang “bermakan sehat”.(Kiara Alma Nafasha)









