Example 160x600
Example 160x600
Pendidikan

Katanya Lulusan Menyerah, Padahal Dunia Kerja yang Belum Naik Level

×

Katanya Lulusan Menyerah, Padahal Dunia Kerja yang Belum Naik Level

Sebarkan artikel ini
lulusan
Example 468x60

KhatulistiwaHits, Jakarta — Akhir-akhir ini banyak yang bilang lulusan berpendidikan tinggi mulai angkat tangan sama dunia kerja. Katanya, sudah capek kirim CV, capek ditolak, capek denger alasan klasik soal usia, pengalaman, dan ekspektasi gaji. Dari situ muncul kesimpulan instan: lulusan sekarang putus asa dan berhenti berjuang.

Tapi kalau ditarik napas sebentar, ceritanya nggak sesederhana itu. Banyak lulusan sebenarnya bukan berhenti cari kerja, tapi berhenti ngejar peran yang salah. Dunia kerja berubah cepat, sementara sebagian orang masih disuruh main di level lama. Wajar kalau akhirnya terasa mentok.

Masalahnya Bukan di Usia, Tapi di Cara Membaca Permainan

Sekarang gini deh, jujur aja. Di tengah kondisi bisnis yang serba nggak pasti, perusahaan tuh lagi nggak nyari orang yang cuma bisa ngerjain tugas. Mereka butuh orang yang bisa mikir, ngambil keputusan, dan berani tanggung jawab. Soal umur? Itu urusan belakangan. Yang penting, kepalanya jalan.

Makanya, diskriminasi usia yang sering diributin itu sebenarnya lebih banyak kejadian di posisi teknis dan operasional. Begitu perannya naik ke level strategis, pertanyaannya berubah total. Bukan lagi “umur kamu berapa”, tapi “kamu bisa ngapain buat nyelametin atau ngembangin organisasi”.

Di titik ini, pendidikan magister mulai kelihatan fungsinya. Bukan buat pamer gelar atau ngejar gengsi, tapi buat naikin cara berpikir. Pendidikan lanjutan jadi ruang buat belajar ngelihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas, bukan sekadar dari meja kerja sendiri.

Gelar Bukan Jalan Pintas, Tapi Alat untuk Naik Kelas

Program Magister Manajemen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ngambil posisi ini dengan cukup realistis. Mahasiswanya nggak diarahkan buat jadi “pelamar kerja paling rajin”, tapi buat jadi orang yang paham arah. Mereka dilatih mikir strategis, baca risiko, dan ambil keputusan di tengah situasi yang nggak selalu ideal.

Buat yang masih muda dan sering dibilang kurang pengalaman, S2 jadi jalan pintas buat mempercepat kedewasaan berpikir. Sementara buat yang sudah lama kerja tapi kariernya jalan di tempat, pendidikan magister justru bisa jadi pintu buat naik kelas, dari sekadar pelaksana ke pengambil keputusan. Di sini, pengalaman dan ilmu bukan saingan, tapi pasangan.

Baca juga: Dari Pencari Kerja ke Pencipta Solusi: Lulusan S2 UBSI Tak Sekadar Cari Lowongan

Dunia Kerja Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Kekurangan Pengambil Keputusan

Kalau dibilang lulusan sekarang putus asa, rasanya kurang tepat. Yang terjadi justru banyak orang sadar kalau dunia kerja sudah berubah, dan mereka perlu ikut berubah juga. Mereka nggak berhenti berjuang, mereka cuma berhenti berharap sistem lama masih relevan.

Soalnya, dunia kerja hari ini bukan kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang yang bisa mikir jauh dan berani ambil keputusan. Lowongan mungkin ada, tapi yang dicari bukan lagi tenaga tambahan, melainkan orang yang bisa ngasih arah.

Baca juga: Katanya Kuliah Cuma Cari Gelar? Di UBSI Kampus Pontianak, Mahasiswa Disiapkan Siap Kerja dan Siap Usaha

Kalau kamu ngerasa dunia kerja makin sempit dan persaingan makin ketat, bisa jadi masalahnya bukan kamu kurang layak. Bisa jadi kamu cuma berada di level yang salah. Dan buat yang pengen naik level, Program Magister Manajemen UBSI bisa jadi salah satu jalur buat ngerapihin ulang arah karier. Bukan janji instan, tapi bekal biar kamu nggak cuma ikut arus, tapi ikut nentuin arah.

Karena di dunia kerja yang katanya makin nggak ramah ini, yang dibutuhin sebenarnya sederhana: bukan usia ideal, tapi kepala yang siap mikir dan ambil keputusan.(Siti Hafizah)