Example 160x600
Example 160x600
Pendidikan

Bukan Overqualified, Tapi Underprepared: Peran S2 UBSI Menutup Kesenjangan Dunia Kerja

×

Bukan Overqualified, Tapi Underprepared: Peran S2 UBSI Menutup Kesenjangan Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
S2 UBSI
Example 468x60

KhatulistiwaHits, Jakarta — Istilah overqualified belakangan sering dipakai untuk menggambarkan lulusan berpendidikan tinggi yang kesulitan mendapat pekerjaan. Gelarnya dianggap terlalu tinggi, ekspektasinya dinilai tidak realistis, dan akhirnya disimpulkan sebagai “tidak cocok dengan pasar kerja”. Tapi benarkah masalahnya ada pada gelar?

Ketika Gelar Tinggi Tak Cukup untuk Menang di Pasar Kerja

Jika dilihat lebih dalam, tantangan dunia kerja hari ini justru mengarah pada kondisi yang berbeda: overqualified secara akademik, tapi underprepared secara kompetensi. Artinya, bukan kelebihan gelar yang menjadi masalah, melainkan kurangnya kesiapan menghadapi kebutuhan industri yang terus berubah.

Data global mendukung fakta ini. World Economic Forum melalui Future of Jobs Report menyebutkan hampir 50 persen keterampilan kerja akan berubah dalam beberapa tahun ke depan akibat digitalisasi, otomatisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan. Dunia kerja tidak sedang kekurangan orang berpendidikan, tetapi kekurangan talenta yang siap dengan skill relevan.

Baca juga: Soroti Kesehatan Mental, Dosen UBSI Dengarkan Curhat Publik Lewat Machine Learning

Di Indonesia, tantangan serupa juga terlihat jelas. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat kebutuhan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030, terutama di bidang Artificial Intelligence, data analytics, dan keamanan siber. Namun, ketersediaan SDM dengan kompetensi tersebut masih belum sebanding dengan kebutuhan industri. Di sinilah label overqualified, tapi underprepared menjadi semakin relevan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa banyak lulusan bekerja di sektor yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Kondisi ini memperkuat kesimpulan bahwa masalah utama bukan pada tingkat pendidikan, melainkan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja.

Peran Magister dalam Menyiapkan Talenta Siap Industri

Pendidikan magister kemudian menjadi ruang strategis untuk menutup kesenjangan ini. Program S2 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) hadir bukan untuk menambah gelar semata, tetapi untuk mengubah lulusan yang underprepared menjadi siap bersaing.

Melalui Program Magister Teknologi Informasi, mahasiswa dibekali kemampuan di bidang Artificial Intelligence, Machine Learning, Deep Learning, Natural Language Processing, Computer Vision, hingga big data analytics. Kompetensi ini dirancang agar lulusan tidak hanya paham teori, tetapi mampu membangun solusi nyata berbasis teknologi dan data sesuatu yang sangat dibutuhkan industri saat ini.

Selain itu, konsentrasi Cyber Security Architecture menjawab kebutuhan akan talenta keamanan digital yang terus meningkat. Dengan pendekatan security by design, penguasaan manajemen risiko, cryptography, dan integrasi AI, lulusan S2 UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif diposisikan sebagai perancang sistem keamanan, bukan sekadar pengguna teknologi.

Baca juga: Program Studi Sistem Informasi UBSI Kampus Pontianak Dorong Daya Saing Lulusan Lewat Uji Sertifikasi Kompetensi

Sementara itu, Program Magister Manajemen UBSI menyiapkan lulusan sebagai strategic decision maker. Di tengah dunia kerja yang penuh ketidakpastian, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan berbasis data, membaca peluang, dan beradaptasi dengan cepat. Lulusan juga diarahkan menjadi startup developer, membuka peluang karier sebagai pencipta lapangan kerja, bukan hanya pencari kerja.

Tak hanya itu, peran sebagai researcher dan consultant juga menjadi jalur strategis bagi lulusan S2. Dengan kemampuan riset terapan dan solusi berbasis manajemen, lulusan memiliki fleksibilitas karier yang lebih luas dan berkelanjutan.

Berbagai data ini menunjukkan satu hal penting, dunia kerja tidak menolak pendidikan tinggi. Dunia kerja menuntut kesiapan. Ketika lulusan dicap overqualified, sering kali masalahnya justru karena mereka belum dipersiapkan secara tepat.

Karena itu, alih-alih menyalahkan gelar, mungkin yang perlu dibenahi adalah bagaimana pendidikan menyiapkan lulusannya. Pendidikan S2 yang adaptif dan relevan mampu mengubah stigma overqualified, tapi underprepared menjadi siap, kompeten, dan berdaya saing. Di sinilah peran S2 UBSI hadir menutup kesenjangan antara kampus dan dunia kerja.(Siti Hafizah)