KhatulistiwaHits.com, Pontianak – Sebagai bentuk kepedulian terhadap maraknya praktik judi online (judol) dan pinjaman online ilegal (pinjol), Forum Pena Digital menggelar kegiatan literasi digital bertema “Terjerat dalam Pusaran Judol dan Pinjol” di Meeting Room Hotel Neo Pontianak pada Kamis (27/5/2025).
Forum ini tidak hanya menjadi sarana penyuluhan, tetapi juga ruang diskusi kritis dan refleksi sosial bagi generasi muda. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang turut memperkaya perspektif dan mempertegas urgensi literasi digital.
Literasi Digital Jadi Wadah Kolaboratif antara Mahasiswa dan Narasumber Ahli
Kegiatan ini menjadi wadah edukasi dan diskusi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, dosen, guru, aktivis literasi, hingga masyarakat umum. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak sebagai Kampus Digital Kreatif turut memberikan kontribusi signifikan melalui kehadiran perwakilan dari empat organisasi mahasiswa, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Akuntansi (HIMASA), Himpunan Mahasiswa Informatika (HIMAIF), dan Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMSI).
Tiga narasumber utama yang berkompeten dalam bidang digital dan perlindungan masyarakat hadir memberikan paparan komprehensif. Mereka adalah Gamal Febri Nugraha dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Barat, Eko Budi Darmawan dari Kepolisian Daerah Kalimantan bBarat, dan Ahmad Toni Saputra dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketiganya memaparkan dampak destruktif judi online dan pinjaman ilegal, mulai dari aspek hukum, modus penipuan, hingga dampak psikologis serta kerentanan sosial khususnya bagi generasi muda yang rentan dan kurang literasi digital.
Ketua BEM UBSI Kampus Pontianak, Herman, menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam merespons isu-isu sosial di era digital. Ia menggarisbawahi bahwa mahasiswa tidak boleh hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap masalah yang berkembang di masyarakat.
“Sebagai mahasiswa, kami tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga harus peka terhadap persoalan sosial di sekitar kami. Judol dan pinjol ilegal adalah masalah nyata yang menghantui banyak anak muda. Forum ini membuka wawasan dan mendorong kami untuk aktif menciptakan ruang digital yang sehat dan bertanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/5).
Sementara itu, Koordinator Kemahasiswaan UBSI Kampus Pontianak, Yoki Firmansyah, mengapresiasi semangat mahasiswa dalam mengikuti forum ini. Ia menyoroti bahwa literasi digital merupakan kebutuhan mendesak yang harus terus dikembangkan, sejalan dengan visi kampus sebagai pelopor dalam pendidikan digital.
“UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif mendorong mahasiswa tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berperan aktif menjaga etika dan keamanan di dunia digital. Literasi digital kini menjadi kebutuhan mendesak. Kegiatan seperti ini sangat penting dan kami apresiasi tinggi,” tuturnya.
Forum ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan semangat untuk bertindak nyata. Beberapa peserta berkomitmen melanjutkan edukasi literasi digital lewat kegiatan sosial dan komunitas masing-masing. Hal ini menegaskan bahwa perubahan besar berawal dari kesadaran kecil yang konsisten dijalankan.
Sebagai kampus yang mengusung konsep Digital Kreatif, UBSI Kampus Pontianak berkomitmen aktif mendorong lahirnya generasi yang melek digital, bijak bermedia, dan bertanggung jawab menghadapi perkembangan teknologi. Melalui kolaborasi lintas sektor, forum ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital yang aman, inklusif, dan memberdayakan seluruh lapisan masyarakat.(Siti Hafizah)















