Example 160x600
Example 160x600
FilmHiburan

George Lucas: AI Adalah Masa Depan Perfilman, “Tidak Ada yang Bisa Menghentikannya”

101
×

George Lucas: AI Adalah Masa Depan Perfilman, “Tidak Ada yang Bisa Menghentikannya”

Sebarkan artikel ini
George Lucas
Example 468x60

KhatulistiwaHits – Perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di industri perfilman kembali memanas. Kali ini, giliran George Lucas, kreator Star Wars sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah sinema modern, yang menyatakan dukungan terbuka terhadap AI.

Dalam wawancara terbaru dengan majalah A Rabbit’s Foot, seperti yang dilansir Euronews (16/07), Lucas menyebut bahwa AI merupakan masa depan industri perfilman dan tidak dapat dihentikan. Menurutnya, penolakan terhadap AI sama seperti menolak kemunculan mobil ketika dunia masih menggunakan kereta kuda.

“There’s nothing you can do about it. It’s the future.”
— George Lucas

Pernyataan tersebut langsung memicu diskusi luas di kalangan sineas, pengembang teknologi, hingga para penggemar film.

AI Dinilai Sebagai Evolusi Teknologi Film

Bagi George Lucas, penggunaan teknologi baru bukanlah sesuatu yang asing.

Selama lebih dari lima dekade, ia dikenal sebagai sosok yang selalu mendorong batas inovasi di industri perfilman. Melalui Industrial Light & Magic (ILM), Lucas merevolusi dunia efek visual (visual effects/VFX), memperkenalkan teknologi digital dalam proses produksi film, hingga menjadi salah satu pelopor penggunaan kamera digital untuk film layar lebar.

Karena latar belakang tersebut, Lucas melihat AI sebagai kelanjutan alami dari evolusi teknologi sinema.

Menurutnya, setiap lompatan teknologi besar dalam sejarah perfilman selalu menghadapi penolakan pada awalnya, mulai dari film bersuara, warna, CGI, hingga kamera digital. Namun pada akhirnya, seluruh inovasi tersebut justru menjadi standar baru industri.

“Menolak AI Sama Seperti Memilih Kereta Kuda”

Dalam wawancaranya, Lucas menggunakan analogi yang cukup menarik. Ia menyamakan penolakan terhadap AI dengan orang-orang yang tetap memilih kereta kuda ketika mobil mulai diperkenalkan.

Menurut Lucas, perkembangan teknologi tidak bisa dihentikan hanya karena sebagian orang merasa tidak nyaman terhadap perubahan.

Sebaliknya, masyarakat perlu belajar bagaimana menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab. Pandangan tersebut konsisten dengan perjalanan karier Lucas yang sejak awal dikenal sebagai inovator teknologi, bukan sekadar sutradara.

AI Tidak Menghilangkan Nilai Seni

Meskipun mendukung AI, Lucas menegaskan bahwa inti dari sebuah film tetap berada pada cerita dan emosi, bukan pada teknologinya. Menurutnya, teknologi hanyalah alat yang membantu proses kreatif menjadi lebih mudah dan efisien.

Keputusan artistik tetap berada di tangan manusia. Lucas juga mengakui bahwa AI dapat disalahgunakan, tetapi ia menilai persoalan utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya. Karena itu, ia menekankan pentingnya tanggung jawab kreator dalam memastikan penggunaan AI tetap etis dan menghormati hak cipta.

Hollywood Masih Terbelah

Pandangan George Lucas ternyata berbeda dengan sejumlah sineas lainnya. Sutradara seperti Christopher Nolan masih menunjukkan sikap skeptis terhadap penggunaan AI generatif dalam proses kreatif. Nolan menilai bahwa film pada dasarnya merupakan ekspresi manusia dan khawatir penggunaan AI secara berlebihan dapat mengurangi orisinalitas karya.

Di sisi lain, beberapa pembuat film mulai melihat AI sebagai alat pendukung. Gareth Edwards, misalnya, menyebut AI dapat membantu mempercepat proses produksi, sementara Andy Serkis mengungkapkan bahwa teknologi AI digunakan secara terbatas untuk efek de-aging dalam proyek film terbarunya, tanpa menggantikan proses kreatif utama.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa industri perfilman masih berada dalam fase transisi menuju era produksi berbasis AI.

Sejalan dengan Jejak Inovasi George Lucas

Dukungan Lucas terhadap AI bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sejak era 1970-an, ia telah berkali-kali mendorong penggunaan teknologi baru di Hollywood.

Lucas mendirikan Industrial Light & Magic (ILM) untuk menciptakan efek visual yang sebelumnya dianggap mustahil. Ia juga berperan besar dalam pengembangan teknologi suara melalui THX, mendukung penyuntingan digital, serta menjadi salah satu tokoh yang mempercepat adopsi sinematografi digital dalam produksi film.

Karena itu, banyak pengamat menilai dukungannya terhadap AI merupakan kelanjutan dari filosofi yang selama ini ia pegang: teknologi harus digunakan untuk memperluas kemungkinan bercerita, bukan membatasinya.

Masa Depan Perfilman Akan Didampingi AI

Seiring berkembangnya AI generatif, berbagai tahapan produksi film kini mulai memanfaatkan teknologi tersebut, mulai dari penulisan naskah awal, storyboard, konsep visual, efek khusus, penyuntingan video, pengisian suara, hingga lokalisasi bahasa.

Namun demikian, sebagian besar pelaku industri sepakat bahwa kreativitas manusia tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya sinematik yang memiliki nilai emosional.

Baca Juga: Live-Action Moana Gagal Penuhi Ekspektasi, Mengapa Film Disney Ini Tersandung di Box Office?

AI dipandang sebagai alat yang dapat mempercepat pekerjaan teknis, sementara visi artistik, empati, dan kemampuan memahami pengalaman manusia masih menjadi keunggulan yang sulit digantikan oleh mesin.

Pernyataan George Lucas memperlihatkan bagaimana perdebatan mengenai AI di industri perfilman semakin memasuki babak baru. Bagi Lucas, AI bukan ancaman bagi dunia film, melainkan evolusi teknologi yang tidak dapat dihindari. Seperti halnya CGI, kamera digital, dan efek visual yang dahulu sempat diperdebatkan, AI diyakini akan menjadi bagian dari proses produksi film di masa depan.

Meski demikian, tantangan terbesar bukan terletak pada keberadaan AI itu sendiri, melainkan pada bagaimana industri memastikan teknologi tersebut digunakan secara etis, menghormati hak cipta, dan tetap menempatkan kreativitas manusia sebagai inti dari setiap karya. Dengan kata lain, masa depan perfilman kemungkinan besar bukanlah manusia melawan AI, tetapi manusia dan AI yang bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman sinematik yang lebih inovatif.