Example 160x600
Example 160x600
News

Sembilan WNI Bebas dari Penahanan Israel, Relawan Global Sumud Flotilla Pulang Membawa Luka Kemanusiaan

×

Sembilan WNI Bebas dari Penahanan Israel, Relawan Global Sumud Flotilla Pulang Membawa Luka Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Sembilan WNI Bebas
Example 468x60

Khatulistiwahits — Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya ditahan oleh tentara Israel akhirnya dibebaskan pada 21 Mei 2026. Para WNI tersebut diketahui merupakan bagian dari pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla, sebuah misi internasional yang membawa bantuan dan solidaritas bagi warga Palestina di Gaza.

Kini, seluruh relawan Indonesia telah berada di Istanbul, Turki, dalam kondisi selamat meski mengalami berbagai luka fisik dan trauma akibat perlakuan keras selama masa penahanan.

Kabar pembebasan ini disambut lega oleh keluarga dan masyarakat Indonesia. Namun, di balik kebebasan tersebut, para relawan membawa kisah memilukan tentang kekerasan yang mereka alami saat berada dalam tahanan tentara Israel. Koordinator Global Peace Convoy Indonesia, Maimoen Herawati, mengungkapkan bahwa sejumlah WNI mengalami memar, sesak napas, hingga bekas penyetruman di tubuh mereka. Beberapa relawan bahkan mengaku dibanting, dipukul, dan diinjak selama proses penahanan berlangsung.

“Sebagian relawan mengalami luka memar dan trauma fisik akibat tindakan kekerasan yang mereka alami,” ungkapnya.

Global Sumud Flotilla sendiri merupakan bagian dari gerakan solidaritas internasional yang melibatkan relawan dari berbagai negara untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan serta menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina. Pelayaran tersebut menjadi simbol perlawanan sipil terhadap blokade dan krisis kemanusiaan yang masih terjadi di Gaza.

Menurut Maimoen, kondisi relawan Indonesia masih lebih baik dibandingkan sejumlah relawan dari negara lain yang mengalami penyiksaan lebih berat. Ada korban yang harus dipindahkan menggunakan stretcher, bahkan menjalani operasi akibat luka serius yang diderita.

“Kondisi WNI kita memang terluka, tetapi masih lebih baik dibandingkan relawan negara lain yang mengalami kekerasan lebih parah,” ujarnya.

Insiden ini kembali memunculkan sorotan internasional terhadap perlakuan terhadap relawan kemanusiaan di wilayah konflik. Kehadiran mereka sejatinya bertujuan membantu warga sipil terdampak perang, namun justru menghadapi tindakan represif di lapangan.

Maimoen juga menegaskan bahwa apa yang dialami para relawan kemungkinan masih jauh lebih ringan dibanding penderitaan yang dialami warga Palestina sehari-hari. Ia menyebut kekerasan terhadap rakyat Palestina diduga berlangsung lebih brutal dan sistematis.

Baca Juga: Rayakan Harkitnas, PLN Icon Plus Kobarkan Semangat Inovasi dan Pelayanan

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tragedi kemanusiaan di Gaza belum menunjukkan tanda mereda. Relawan yang datang membawa bantuan dan solidaritas justru ikut menjadi korban kekerasan, menggambarkan tingginya tensi serta risiko di wilayah konflik tersebut.

Saat ini, sembilan WNI masih menjalani pemulihan di Istanbul sebelum dipulangkan ke Indonesia. Pemerintah Indonesia diharapkan terus memberikan pendampingan medis dan psikologis kepada para korban agar proses pemulihan berjalan maksimal.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa konflik berkepanjangan tidak hanya memakan korban dari warga sipil lokal, tetapi juga relawan internasional yang hadir atas nama kemanusiaan. Dukungan diplomatik dan tekanan internasional dinilai semakin penting untuk memastikan keselamatan pekerja kemanusiaan di kawasan konflik.**

Source: dari berbagai sumber