Khatulistiwahits – Perkembangan fitur Google AI Overviews kembali memicu kontroversi. Kali ini, hampir 300 surat kabar dan majalah Prancis yang tergabung dalam Alliance of General Information Press (APIG) mengajukan keluhan kepada Competition Authority atau Otoritas Persaingan Prancis terkait penggunaan konten jurnalistik dalam ringkasan pencarian berbasis kecerdasan buatan.
Seperti yang dilansir Euronews, keluhan tersebut menyoroti persoalan yang semakin penting di era mesin pencari berbasis AI: ketika Google dapat memberikan jawaban langsung kepada pengguna berdasarkan informasi dari media, siapa yang seharusnya mendapatkan nilai ekonomi dari konten tersebut?
AI Overviews Google Jadi Sorotan
Google mulai meluncurkan fitur AI Overviews di Prancis pada akhir Juli 2026. Fitur ini menampilkan ringkasan jawaban yang dibuat AI di bagian atas halaman hasil pencarian, sebelum pengguna melihat daftar tautan seperti pada pencarian Google konvensional. Ringkasan tersebut disusun berdasarkan informasi dari berbagai sumber di internet.
Bagi pengguna, pendekatan ini menawarkan pengalaman pencarian yang lebih praktis. Alih-alih membuka beberapa artikel untuk mendapatkan informasi, pengguna dapat memperoleh rangkuman secara langsung dari halaman pencarian.
Namun, bagi perusahaan media, kemudahan tersebut justru menimbulkan persoalan serius.
Jika pembaca sudah memperoleh jawaban dari ringkasan AI, mereka mungkin tidak lagi merasa perlu mengklik artikel asli.
Akibatnya, trafik ke situs media berpotensi menurun, begitu pula pendapatan iklan yang selama ini bergantung pada jumlah kunjungan.
Media Klaim Trafik Bisa Turun hingga 38 Persen
APIG menyebut persoalan ini bukan sekadar kekhawatiran teoritis. Berdasarkan estimasi regulator audiovisual dan digital Prancis, Arcom, trafik ke situs media yang dikaitkan dengan ringkasan berbasis AI diperkirakan mengalami penurunan antara 33 persen hingga 38 persen.
Angka tersebut menjadi sangat signifikan bagi industri media yang selama dua dekade terakhir sudah menghadapi tekanan finansial akibat perubahan model bisnis periklanan.
Pendapatan iklan yang dahulu mengalir ke surat kabar secara perlahan berpindah ke platform digital besar. Kini, media menghadapi tantangan baru: teknologi AI dapat mengambil, mengolah, dan menyajikan kembali informasi jurnalistik dalam bentuk jawaban ringkas yang membuat pengguna tidak selalu perlu mengunjungi sumber aslinya.
Bukan Menolak AI, tetapi Meminta Kompensasi
Menariknya, APIG menegaskan bahwa mereka tidak meminta inovasi AI dihentikan. Kelompok yang mewakili perusahaan media Prancis tersebut justru mengatakan bahwa penerbit bersedia mendukung penggunaan baru teknologi AI, selama terdapat kerangka yang seimbang berdasarkan izin, negosiasi, dan pembayaran yang sesuai dengan nilai konten yang digunakan. Presiden APIG sekaligus CEO Le Figaro, Marc Feuillée, menekankan bahwa informasi memiliki nilai ekonomi. Menurut kelompok tersebut, nilai yang dihasilkan AI dari konten jurnalistik seharusnya tidak hanya dinikmati oleh platform teknologi, tetapi juga dibagikan kepada penerbit yang menghasilkan informasi tersebut.
Dengan demikian, inti persoalannya bukan sekadar AI versus media, melainkan bagaimana menentukan model ekonomi baru antara perusahaan teknologi dan industri pers.
Google Sudah Pernah Berselisih dengan Media Prancis
Perselisihan terbaru ini juga memiliki sejarah panjang. Pada 2022, Google mencapai kesepakatan dengan sekitar 450 penerbit pers Prancis terkait neighbouring rights atau hak terkait dalam hukum hak cipta. Mekanisme tersebut memungkinkan surat kabar, majalah, dan kantor berita memperoleh pembayaran ketika kontennya digunakan oleh perusahaan teknologi.
Namun, hubungan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Otoritas Persaingan Prancis sebelumnya telah menjatuhkan denda terhadap Google karena persoalan kepatuhan terhadap ketentuan yang berkaitan dengan kesepakatan tersebut. Euronews menyebut denda sebesar €250 juta pada 2024, sementara laporan Reuters mengingatkan bahwa Google juga pernah dikenai denda €500 juta dalam sengketa hak cipta dengan media Prancis.
Kini, APIG meminta regulator kembali turun tangan untuk memastikan komitmen yang telah dibuat sebelumnya tetap dihormati ketika teknologi AI menghadirkan bentuk baru penggunaan konten pers.
Era “Zero-Click” Semakin Nyata
Persoalan ini berkaitan erat dengan fenomena yang dikenal sebagai zero-click search. Dalam model pencarian tradisional, pengguna mengetik pertanyaan, melihat daftar hasil, kemudian mengklik situs yang dianggap paling relevan. AI mengubah mekanisme tersebut. Mesin pencari dapat langsung memahami pertanyaan, menggabungkan informasi dari berbagai sumber, lalu menghasilkan jawaban yang sudah diringkas. Pengguna bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa pernah mengunjungi situs penerbit.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Agustus 2026 menganalisis perilaku pengguna pada halaman Google Search yang menampilkan AI Overview. Studi terhadap panel 900 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa klik menuju sumber yang dikutip dalam AI Overview terjadi hanya sekitar 1 persen dari kunjungan ke halaman yang menampilkan AI Overview. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara AI Overview dengan lebih sedikit klik dan lebih sering berakhirnya sesi penelusuran.
Temuan tersebut tentu tidak secara otomatis membuktikan bahwa pola yang sama terjadi di Prancis, tetapi memberikan gambaran mengapa penerbit sangat khawatir terhadap masa depan trafik organik.
AI Mengubah Ekonomi Informasi
Persoalan yang terjadi di Prancis sebenarnya mencerminkan pertanyaan global. Selama bertahun-tahun, internet berkembang berdasarkan sebuah mekanisme sederhana: penerbit membuat konten, mesin pencari mengarahkan trafik, dan penerbit mendapatkan nilai ekonomi dari kunjungan tersebut.
AI generatif mulai mengubah rantai tersebut. Kini, platform AI dapat mengambil informasi dari berbagai sumber, mengolahnya, kemudian menyajikannya kembali sebagai jawaban baru.
Di satu sisi, pengguna mendapatkan pengalaman yang jauh lebih cepat. Di sisi lain, penerbit berisiko kehilangan hubungan langsung dengan pembaca.
Jika model ini berkembang tanpa mekanisme kompensasi yang jelas, industri media menghadapi dilema besar: siapa yang akan terus membiayai jurnalisme berkualitas jika pembaca tidak lagi datang ke sumber berita?
Google Punya Pandangan Berbeda
Google mempertahankan argumen bahwa AI Overviews justru membantu pengguna mengajukan pertanyaan yang lebih kompleks dan menemukan konten baru. Perusahaan juga menyatakan menyediakan mekanisme bagi penerbit untuk mengontrol bagaimana materi mereka digunakan.
Pandangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara dua pihak. Google melihat AI Overviews sebagai evolusi mesin pencari. Media melihatnya sebagai perubahan dalam distribusi dan monetisasi informasi. Keduanya sebenarnya tidak harus bertentangan. Masalah muncul ketika teknologi baru mengubah nilai ekonomi sebuah konten tanpa mekanisme pembagian nilai yang disepakati bersama.
Masa Depan Jurnalisme Sedang Dipertaruhkan
Polemik di Prancis menjadi sinyal penting bagi industri media di seluruh dunia. AI memang dapat membantu masyarakat menemukan informasi lebih cepat. Namun, AI juga membutuhkan sumber informasi berkualitas agar dapat memberikan jawaban yang akurat.
Dan sumber informasi berkualitas membutuhkan jurnalisme. Jurnalisme membutuhkan wartawan, editor, fotografer, data, investigasi, infrastruktur, dan biaya operasional.
Jika seluruh rantai produksi tersebut kehilangan sumber pendapatan karena pembaca berhenti mengunjungi situs berita, ekosistem informasi publik pada akhirnya dapat ikut terdampak. Karena itu, persoalan Google AI Overviews bukan hanya masalah trafik website. Ini adalah perdebatan mengenai masa depan ekonomi jurnalisme di era AI.
Menentukan Aturan Main Baru
Keluhan APIG kepada Otoritas Persaingan Prancis menunjukkan bahwa industri media mulai mencari cara untuk menegosiasikan ulang hubungan mereka dengan perusahaan teknologi.
Solusinya kemungkinan tidak cukup hanya dengan melarang AI menggunakan konten media. Sebaliknya, industri membutuhkan model yang memungkinkan teknologi AI tetap berkembang sekaligus memberikan izin, atribusi, transparansi, dan kompensasi yang adil kepada penerbit.
Jika model tersebut berhasil ditemukan, AI dan media tidak harus menjadi musuh. AI dapat menjadi teknologi distribusi informasi generasi berikutnya, sementara media tetap memperoleh insentif untuk menghasilkan jurnalisme berkualitas.
Namun jika persoalan ini tidak menemukan titik temu, konflik antara perusahaan AI, mesin pencari, dan industri media kemungkinan akan semakin panjang—dan Prancis bisa menjadi salah satu medan hukum serta regulasi paling penting dalam menentukan masa depan hubungan tersebut.









