Example 160x600
Example 160x600
NewsInspirasi

Masjid Istiqlal Jadi Destinasi Pariwisata, Kata Sandiaga Uno

×

Masjid Istiqlal Jadi Destinasi Pariwisata, Kata Sandiaga Uno

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Khatulistiwahits.com, Jakarta — Mesjid Istiqlal akan jadi destinasi pariwisata, berikut kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Menparekraf RI Sandiaga Salahuddin Uno saat memberikan sambutan disela ibadah sholat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (17/4) bertepatan malam ke-16 Ramadhan 1443 H.

Pada kesempatan itu, menteri Sandiaga Uno berkesempatan untuk memberikan sedikit tausyiah kepada jama’ah masjid. Sandiaga mengungkapkan bahwa Masjid Istiqal adalah tempat ibadah umat Muslim pertama di dunia yang mendapatkan gelar Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE), yang artinya bangunan masjid terbesar di Asia Tenggara ini merupakan rumah ibadah yang ramah lingkungan. “Alhamdulillah Masjid Istiqlal dinobatkan sebagai ‘Green Mosque’ pertama di dunia. Ini tentu suatu pencapaian yang kita umat muslim Indonesia harus bangga,” ucap Sandiaga.

Lihat Juga: Hidup Berkah selama 1 Bulan Penuh Puasa Ramadhan

Menparekraf menghimbau agar seluruh pihak khususnya masyarakat muslim Ibukota terus mendukung kemajuan Istiqlal dengan cara memakmurkannya. Makna memakmurkan masjid adalah selalu berada di sana untuk melaksanakan ibadah dalam rangka mencari keridhaan-Nya. Misalnya untuk shalat, berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dan mempelajari ilmu agama. Juga termasuk membangun masjid, menjaga dan memeliharanya.

Menparekraf Ajak Jama’ah Memakmurkan Masjid Istiqlal

Hakikat memakmurkan masjid adalah mencakup semua amal ibadah dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla yang diperintahkan atau dianjurkan dalam Islam untuk dilaksanakan di masjid. Oleh karena itu, tentu saja shalat berjamaah lima waktu di masjid bagi laki-laki adalah termasuk bentuk memakmurkan masjid, bahkan inilah bentuk memakmurkan masjid yang paling utama.

“Kita harus terus memakmurkan masjid baik secara fisik maupun makna. Bangun dengan indah dengan fasilitas-fasilitas agar publik bisa menikmati.” Sebagai wujud mendorong kemajuan Masjid Istiqlal, Sandiaga menyebut bahwa Kemenparekraf akan mencanangkan tempat ibadah yang terletak di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat ini sebagai tempat wisata.

“Saya kepikiran bahwa Masjid Istiqlal ini akan menjadi destinasi pariwisata, bukan hanya wisata religi tapi juga MICE,” ungkap Sandiaga. “Alhamdulillah dengan restu Bapak Presiden, masjid Istiqlal ini akan menjadi destinasi pariwisata kedepannya,” jelasnya.

Menparekraf: Berkaca pada Masjidil Haram
Masjidil Haram-Ka’bah-Mekkah

Berkaca Pada MASJIDIL HARAM dan MASJID NABAWI

Sebaik-baik masjid yang ada di muka bumi ini adalah dua masjid yang berada di dua kota suci dan paling dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla yaitu Mekkah dan Madinah. Masjidil haram dan Masjid Nabawi adalah dua masjid yang paling dirindukan oleh orang-orang yang beriman dan paling pantas untuk dimakmurkan dengan berbagai macam ibadah yang disyariatkan dalam Islam, seperti thawaf dan sa’i ketika melaksanakan ibadah haji atau ‘umrah di Masjidil haram, melaksanakan shalat di kedua masjid tersebut, dan ibadah-ibadah agung lainnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu (kali) shalat di masjid lain kecuali Masjidil haram.

Dalam riwayat lain dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu ada tambahan: وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ Dan shalat di Masjidil haram seratus seribu (kali) lebih utama daripada shalat di masjid lain. 

Khusus yang berhubungan dengan “memakmurkan masjid”, sebagian Ulama mengatakan bahwa ibadah ‘umrah secara bahasa asalnya diambil dari kata “memakmurkan Masjidil haram”. ini menunjukkan bahwa masjid inilah yang paling pantas untuk selalu dikunjungi dan dimakmurkan dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan dalam Islam.

Dan memang pada kenyataannya, dari dulu sampai sekarang, kedua masjid inilah yang selalu menjadi teladan dalam ‘kemakmuran masjid’ karena banyaknya kegiatan-kegiatan ibadah agung yang dilaksanakan di dalamnya. Seperti maraknya majelis ilmu yang bermanfaat di beberapa tempat di dalam dua masjid tersebut, dengan nara sumber para Ulama yang terpercaya dalam ilmu mereka.

Demikian pula halaqah-halaqah tempat para penghafal al-Qur’an maupun orang-orang yang belajar membacanya dengan benar, di hampir setiap sudut masjid. Belum lagi kegiatan ibadah seperti shalat-shalat sunnah, berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla , membaca al-Qur’an hanya marak dilakukan di siang dan malam hari, dalam rangka mencari keutamaan yang berlipat ganda yang Allâh Azza wa Jalla khususkan bagi dua masjid mulia ini.

Khususnya di Masjidil haram, kegiatan ibadah thawaf dan sa’i yang bisa dikatakan tidak pernah terputus, baik ketika musim haji ataupun di waktu lain untuk ‘umrah. Bahkan kegiatan thawaf sunnah hanya terhenti ketika dikumandangkan iqamah untuk pelaksanaan shalat berjamaah lima waktu.

Menparekraf: bercermin pada Masjid Istiqlal
Majid Nabawi-Madinah

Bagi orang yang pernah melaksanakan ibadah ‘umrah dan mengunjungi dua masjdi tersebut di bulan Ramadhan, tentu akan selalu terkenang dengan sifat dermawan yang ditunjukkan di dua masjid tersebut, utamanya di Masjid Nabawi, berupa suguhan berbagai macam makanan lezat untuk berbuka puasa yang memenuhi seluruh masjid dari depan sampai belakang, mulai dari kurma, air zam-zam, roti, yogurt, Haisah dan lain-lain. Khusus untuk di halaman Masjid, makanan berupa nasi ‘Arab denga lauk ayam bakar, daging kambing dan lain-lain.(DST)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *