Khatulistiwahits, Jakarta – Museum Tekstil Jakarta menghadirkan pengalaman museum inklusif bagi komunitas tunanetra melalui program Sentuhan Urna, yang digelar pada Sabtu (7/2). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–14.00 WIB ini diinisiasi peserta LPDP PK-270 dan diikuti penyandang disabilitas netra dari berbagai komunitas.
Program tersebut dirancang untuk membuka akses budaya secara setara. Panitia menyusun rangkaian kegiatan secara partisipatif, mulai dari workshop hingga tur museum berbasis multisensori. Pendekatan ini memungkinkan peserta memahami koleksi tanpa bergantung pada penglihatan.
Program Sentuhan Urna Dorong Akses Museum Inklusif bagi Tunanetra

Kegiatan diawali dengan workshop batik inklusif yang memperkenalkan teknik batik timbul melalui media taktil dan panduan audio. Peserta meraba tekstur kain, menyusun pola, serta mempelajari proses pewarnaan dengan pendampingan fasilitator. Metode ini ditujukan untuk mendorong kreativitas sekaligus membuka peluang keterampilan di bidang ekonomi kreatif.
Setelah itu, peserta mengikuti tur museum dengan pendekatan multisensori. Tur dimulai dari taman pewarna alam hingga ruang pengenalan wastra Nusantara. Pemandu menyampaikan informasi melalui narasi audio dan interaksi langsung agar peserta dapat mengenali material, fungsi, dan nilai budaya koleksi.
Ketua Divisi Social Project Sentuhan Urna, Diajeng Widyannisa, menilai museum perlu menjadi ruang yang setara bagi semua kalangan. “Museum bukan hanya ruang pamer, tetapi juga ruang belajar bersama. Kami ingin museum dapat diakses secara setara oleh komunitas tunanetra,” ujarnya di sela kegiatan.
Panitia juga menggelar forum diskusi singkat untuk menampung pengalaman dan masukan peserta terkait aksesibilitas. Seluruh catatan tersebut akan menjadi bahan evaluasi pengembangan program ke depan. Kegiatan ini merupakan kolaborasi LPDP PK-270, Museum Tekstil Jakarta, Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI), dan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS).
Melalui Sentuhan Urna, penyelenggara berharap model museum inklusif dapat diterapkan di berbagai daerah sehingga akses budaya bagi penyandang disabilitas semakin luas.









