Example 160x600
Example 160x600
BudayaLifestyleLocal News

Festival Meriam Karbit, Tradisi Unik Sambut Idul Fitri 1443H di Kota Pontianak

×

Festival Meriam Karbit, Tradisi Unik Sambut Idul Fitri 1443H di Kota Pontianak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Khatuslistiwahits.com.—Festival meriam karbit adalah sebuah tradisi lokal yang konon menjadi sejarah lahirnya Kota Pontianak.

Dentuman menggelegar saling bersahutan dari dua sisi tepian Sungai Kapuas. Bunyi dentuman itu berasal dari meriam karbit yang dimainkan warga Tambelan Sampit sebagai persiapan menyambut malam lebaran yang tak lama lagi. Meriam karbit merupakan permainan rakyat yang menjadi tradisi setiap bulan Ramadhan dan malam Idul fitri di Kota Pontianak.

Meriam tersebut terbuat dari kayu mabang atau meranti dengan ukuran diameter antara 50 – 70 centimeter dan panjang kisaran 5 hingga 6 meter. Untuk membunyikannya, dibutuhkan bahan bakar berupa karbit. Kemudian terdapat lubang pada bagian meriam untuk tempat menyulutkan api hingga menghasilkan bunyi yang menggelegar.

Festival Meriam Karbit
Suasana festival meriam karbit, tampak walikota Pontianak menyalakan meriam tersebut .

Tradisi membunyikan Meriam ini ternyata ada kaitannya denga nasal-usul kota Pontianak loh Sob!. Nah bagaimana ceritanya, khatulistiwahits.com telah merangkumnya untuk sobat KH.

Sejarah Festival Meriam Karbit di Kota Pontianak

Peneliti sejarah, balai pelestarian nilai budaya Kalbar menjelaskan, permainan meriam karbit erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kota Pontianak.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Sotong Pangkong Kuliner Khas Ramadhan Kota Pontianak Yang Mendunia

Pada zaman dahulu pendiri Kota Pontianak Sultan Syarif Abdurahman Alkadri, membunyikan meriam untuk mengusir para perompak.

Dibunyikannya meriam karbit setiap bulan ramadhan dan menyambut lebaran Idul Fitri di Kota Pontianak ini, dilakukan untuk mengingat awal berdirinya kota Pontianak.

Hingga kini, meriam karbit menjadi tradisi yang melekat di masyarakat dan telah ditetapkan pada tahun 2016 sebagai warisan budaya tak benda.

Menurut beberapa warga Tambelan Sampit yang sempat diwawancarai menjelaskan proses menyalakan meriam karbit. Sebelum mulai membunyikan meriam karbit ada beberapa proses persiapan yang harus dilakukan.

Langkah pertama dimulai dengan menutup lubang pada moncong meriam karbit. Penutupan tersebut biasanya dilakukan dengan kertas koran bekas. Selanjutnya meriam diisi air dilanjutkan dengan mengisi karbit. Pengisian karbit pada meriam dengan takaran yang bervariasi mulai dari 2 hingga 4 ons, tergantung dari besar diameter sebuah meriam karbit.

Setelah meriam diisi karbit dan air, lubang yang ada, termasuk lubang untuk menyulut meriam juga ditutup dengan kertas koran. Untuk menghasilkan suara yang maksimal, meriam karbit didiamkan selama 7 hingga 8 menit. Sesekali meriam karbit dilakukan pengecekan untuk memastikan meriam siap disulut. “Ketika meriam sudah dipastikan siap dibunyikan, lubang untuk menyulut dibuka dan disulut dengan api obor hingga terdengar bunyi dentuman,” paparnya.

Festival Meriam Karbit

Meskipun festival meriam karbit diadakan di tengah pandemi, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menekankan agar selama memainkan meriam karbit, warga tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penularan Covid-19. Menurutnya, permainan meriam karbit merupakan bagian dari budaya masyarakat Kota Pontianak. 

Sebagian besar komunitas pemain meriam karbit berada di Wilayah Pontianak Timur, Selatan dan Tenggara, terutama mereka yang bermukim di pinggiran Sungai Kapuas. Permainan tradisional yang sudah lama ada ini merupakan salah satu aset yang dimiliki Kota Pontianak dan hanya satu-satunya di dunia meriam karbit sebesar ini. “Permainan meriam karbit ini perlu kita lestarikan agar budaya yang kita miliki tidak punah ditelan zaman,” ungkap Edi disatu kesempatan.

Baca Juga: Lebaran 2022 Didepan Mata Emak-Emak Harus Siasati Kenaikan Harga Komoditi

Saat ini, kata dia, di Kota Pontianak terdapat sekitar 40 kelompok meriam karbit. Seluruh kelompok tergolong aktif sebagai wujud melestarikan budaya di Kota Pontianak. “Permainan meriam karbit di Kota Pontianak telah menjadi warisan budaya tak benda sehingga hal ini harus terus kita lestarikan,” pungkasnya.(DST)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *