Example 160x600
Example 160x600
BudayaLifestyle

Ruwatan Rambut Gimbal Desa Dieng Kembali Digelar Setelah 2 Tahun Terhenti

×

Ruwatan Rambut Gimbal Desa Dieng Kembali Digelar Setelah 2 Tahun Terhenti

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KhatulistiwaHits, Wonosobo.– Ruwatan rambut gimbal kembali digelar di Telaga Cebong, Sembungan, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Ahad (3/7/2022). 

Ritual potong rambut gimbal ini kembali dilaksanakan, selain menjalankan tradisi juga dimaksudkan untuk membangkitkan kembali wisata budaya di desa tertinggi di pulau Jawa tersebut setelah dua tahun tidak dilaksanakan akibat pandemi Covid-19. 

Tradisi potong rambut gimbal kali ini diikuti oleh 3 orang anak. Acara ruwatan ini juga dihadiri Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno yang berkesempatan memotong rambut gimbal peserta pertama.

Ruwatan Rambut Gimbal
Menparekraf Sandiaga Uno memotong rambut gimbal seorang peserta saat tradisi potong rambut gimbal di telaga Cebong kawasan ataran tinggi Dieng desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah (foto: ANTARA/Anis Efizudin/foc)

Uniknya dalam tradisi ini, para peserta yang mengikuti tradisi tersebut mengajukan permintaan yang harus dikabulkan. Ada yang minta sepeda motor, minta hape, dan ada juga yang minta kambing.

Acara berikutnya ketika rambut sudah dipotong, rambut gimbal yang telah dipotong selanjutnya dilarung di Telaga Cebong.

Baca Juga: Provinsi Aceh Daerah Berjuluk Serambi Mekah Yang Memiliki Pesona Memikat

Dikutip dari Wikipedia, Ruwatan rambut gimbal adalah upacara pemotongan (cukur) rambut pada anak-anak berambut gimbal (gembel) yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau), Jawa Tengah. Ritual ruwatan yang diadakan pada tanggal satu Suro menurut Kalender Jawa ini bertujuan untuk membersihkan atau membebaskan anak-anak berambut gimbal dari sukerta/sesuker (kesialan, kesedihan, atau malapetaka).

Ketika kita berkunjung ke daerah sekitaran wilayah Dataran Tinggi Dieng, kita akan menjumpai anak berambut Gimbal. Jangan kaget, anak-anak ini bukanlah penganut aliran Reage atau Rasta seperti sang bintang Bob Marley. Rambut Gimbal yang mereka miliki bukan hasil kreasi salon atau barbershop melainkan alami hasil ciptaan Tuhan.

Dibalik keunikannya, tentu ada kisah menarik yang melatar belakangi mengenai Rambut Gimbal para bocah Lereng Dieng ini. Berikut ulasan tentang Ruwatan Rambut Gimbal Bocah Dieng  yang berhasil dihimpun khatulistiwahits.com dari berbagai sumber.

Ruwatan Rambut Gimbal Di Dataran Tinggi Desa Dieng, Ritual Membuang Kesialan Pada Anak

Ruwatan atau ngruwat sendiri memiliki arti membuat tidak kuasa, menghapus kutukan, menghapus noda. Rambut Gimbal Alami ini tumbuh hanya pada rambut anak-anak tertentu di sekitar dataran tinggi Dieng. Rambut gimbal dianggap bisa membawa musibah atau masalah di kemudian hari, sehingga harus diruwat, karena dalam kepercayaan masyarakat setempat beranggapan bahwa anak-anak yang berambut gimbal tersebut akan terlepas dari kutukan atau noda yang berkaitan dengan mitos atau legenda yang tumbuh sejak nenek moyang datang ke Dieng.

Ruwatan Rambut Gimbal
Ruwatan Rambut Gimbal Desa DIeng (Foto:dpad.jogjaprov.go.id)

Ritual yang dilakukan setahun sekali ini juga dipercaya akan mendatangkan rezeki dan si anak dapat hidup normal dengan rambut yang normal.

Dalam Ritual tersebut, sebelum Bocah berambut Gimbal tersebut Dicukur rambutnya, ia akan terlebih dahulu ditanya apa yang diinginkan sebagai syarat agar rambutnya boleh di potong.

Permintaan anak tersebut harus dipenuhi, jika tidak, maka rambut Gimbal dikepalanya akan tumbuh lagi meski dipotong berkali-kali.

Sebelum upacara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut adalah Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.

Malam harinya akan dilanjutkan upacara Jamasan Pusaka, yaitu pencucian pusaka yang dibawa saat kirab anak-anak rambut gimbal untuk dicukur.

Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran. Perjalanan dimulai dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu. Selama berkeliling desa anak-anak rambut gimbal ini dikawal para sesepuh, para tokoh masyarakat, kelompok-kelompok paguyuban seni tradisional, serta masyarakat.

Masyarakat dataran tinggi Dieng masih melaksanakan upacara tersebut sampai sekarang karena mereka percaya bahwa anak yang memiliki rambut gimbal merupakan keturunan dari Kiai Kolo Dete dan istrinya Nini Roro Rence. Pasangan asal Mataram Kuno ini ditugaskan memperluas wilayah kerajaan Mataram.

Kyai Kolo Dete merupakan penguasa Telaga Balekambang di Dieng. Beliau adalah tokoh spiritual yang sangat dipercaya oleh masyarakat Dieng sebagai nenek moyang Dieng. Beliau juga pada masanya adalah seorang yang memiliki ilmu sakti dan suka membela rakyat kecil.

Selain memperluas wilayah, pasangan ini juga ditugaskan Nyi Roro Kidul untuk menjaga kesejahteraan masyarakat Dieng. Wangsit dari Nyi Roro Kidul tersebut akan ditandai dengan kemunculan anak berambut gimbal di Dieng.

Sejak saat itulah muncul anak anak berambut gimbal di kawasan Dieng. Konon, katanya Kiai Kaladete hingga kini masih bersemayam di Telaga Balai Kambang Dieng.

Oleh karena itu, tidak heran jika anak berambut gimbal kerap dijuluki sebagai anak istimewa, sehingga apa yang menjadi keinginannya harus benar-benar dituruti. Sebab, jika apa yang menjadi keinginan anak tersebut tidak dituruti maka akan berdampak bagi anak berambut gimbal tersebut.

Konon katanya, anak berambut gimbal merupakan simbol kesejahteraan masyarakat Dieng. Jumlah mereka seakan menentukan tingkat kesejahteraan penduduk setempat. Semakin banyak anak gimbal di kawasan Dieng, maka akan semakin sejahtera pula masyarakatnya.

Ruwatan Rambut Gimbal
Festival Budaya Dieng (Foto:diengbackpecker.com)

Hal tersebut menjadi mitos yang dipercaya dan turun temurun dalam kehidupan masyarakat Dieng sampai sekarang. Mereka percaya bahwa rambut gimbal hanya boleh dipotong bila anak yang bersangkutan sudah menghendaki/memintanya dan harus dilakukan melalui ritual ruwat atau ruwatan yang dipimpin tetua adat setempat.

Baca Juga:Danau Maninjau, Tanah Kelahiran Buya Hamka yang Menyimpan Sejuta Pesona Alam Nan Indah

Tradisi ruwatan rambut gimbal sangat menarik perhatian masyarakat umum, terlebih orang-orang dari luar daerah Dieng. Seiring berjalannya waktu, tradisi ritual yang unik ini digelar sebagai pertunjukan budaya. Bahkan, ruwatan rambut gimbal yang dilakukan secara massal menjadi bagian penting dari Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) yang digelar setiap tahunnya.

Dalam ruwat rambut gimbal, rambut anak gimbal telah dipotong kemudian dilarung di sumber air yang ada di Dieng. Tempat yang biasanya dijadikan tempat pelarungan adalah Telaga Warna, Telaga Balaikambang, atau Sungai Serayu yang mengalir hingga ke Pantai Selatan.

Pelarungan rambut gimbal dianggap sebagai cara mengembalikan rambut titipan Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence kepada pemiliknya Nyi Roro Kidul. Setelah melalui prosesi ini, rambut gimbal pada anak tersebut tidak akan tumbuh kembali.

Masyarakat setempat juga percaya bahwa rambut gimbal mampu menunjukan emosi dari pemiliknya. Jadi saat mereka marah, rambutnya akan ikut menegang dan menjadi kaku.

Pada tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan tradisi “Ruwatan Rambut Gimbal” sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Jawa Tengah dengan domain Adat Istiadat Masyarakat, SItus, dan Perayaan-Perayaan.(*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *